Langsung ke konten utama

Tingkatan Berpikir Manusia

Manusia dan filsafat merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling membutuhkan satu sama lain, karena secara sederhana filsafat merupakan kegiatan berpikir. Berpikir merupakan satu bagian penting yang harus selalu ada dalam diri manusia, agar manusia terus maju dan berkembang. Kegiatan berpikir mampu mempengaruhi manusia terhadap berbagai aspek kehidupannya (Rahmatillah, 2020). Berfikir dan pengetahuan merupakan dua hal yang menjadi ciri keutamaan manusia, tanpa pengetahuan manusia akan sulit berfikir dan tanpa berfikir pengetahuan lebih lanjut tidak mungkin dapat dicapai (Ryandono et al., 2018). 
Pada perkuliahan Filsafat Penelitian dan Evaluasi Pendidikan pada Hari Selasa, 5 Oktober 2021, Prof Dr. Marsigit, M.A., menyampaikan bahwa struktur berpikir manusia terdiri atas archive, tribal, tradisional, dan feodal. Archive merupakan pola berpikir manusia batu. Selanjutnya Tribal yaitu jika berpikiran punya pendapat mengisolasi diri, menutup diri, tidak mau berdiskusi. Tingkatan selanjutnya yaitu Tradisional merupakan pola berpikir meniru. Terakhir, Feodal adalah memiliki gaya ekploitasi dan diterminasi keluar. 
Pikiran manusia diharapkan harus selalu berkembang. Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pelaksanaan pendidikan berasaskan akal-pikiran manusia yang berkembang dan dapat dikembangkan (Dewantara, 1962). Secara kodrati, akal-pikiran manusia itu dapat berkembang. Namun, sesuai dengan kodrat alam juga akal pikiran manusia itu dapat dikembangkan melalui perencanaan yang disengaja sedemikian rupa sistematik (Samho & Yasunari, 2009).


Daftar Pustaka

Dewantara, K. H. (1962). Karja I (Pendidikan). Pertjetakan Taman Siswa.

Rahmatillah, A. (2020). Filsafat: Sarana berpikir pada manusia. Manhajuna: Jurnal Pendidikan Agama Islam Pascasarjana STAI Syamsul’Ulum, 1(1), 42–58.

Ryandono, M. N. H., Prasetyo, A., Riwanto, D. S., Nugroho, T., Umah, K. A., Luthfi, F., … Rohmati, D. (2018). Filsafat Ilmu Ekonomi Islam. Zifatama Jawara.

Samho, B., & Yasunari, O. (2009). Konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan tantangan-tantangan implementasinya di Indonesia dewasa ini. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNPAR.



Luruh Ego

Pertemuan 6


1.       Tatakrama langit adalah transedental etik

2.       Kesalahan langit adalah antinomi

3.       Bentuk forma dari Bahasa adalah analitik

4.       Substance dari Bahasa adalah semantik

5.       Kenapa terjadi konsisten adalah karena analogi

6.       Tidak dapat dilihat tetapi dapat dipikirkan adalah neumena

7.       Kemampuan persepsi adalah reseptiviti

8.       Kenapa pikiran manusia satu dengan yang lain strukturnya sama dan struktur dunia karena artitektonik

9.       Sebutkan 4 macam komponen dasar pikiran manusia yang tumbuhnya sejak lahir adalah kualitas

10.    Sebutkan 4 macam komponen dasar pikiran manusia yang tumbuhnya sejak lahir adalah kuantitas

11.    Sebutkan 4 macam komponen dasar pikiran manusia yang tumbuhnya sejak lahir adalah hubungan

12.    Sebutkan 4 macam komponen dasar pikiran manusia yang tumbuhnya sejak lahir adalah modaliti

13.    Apa bunyi hukum yang menjelaskan pengalaman adalah role of classification perception

14.    Apa istilah dari mengulang pengalaman adalah diskursi

15.    Apa sifat dasar apostriori adalah kontingensi

16.    Apa komponen hubungan adalah kategori

17.    Apa komponen hubungan adalah hipotetikal

18.    Apa komponen hubungan adalah disjungsi

19.    Apa komponen kualitatif adalah afirmatif

20.    Apa komponen kualitatif adalah negasi

21.    Apa komponen kualitatif adalah infinitif

22.    Apa landasan persepsi adalah sensibility

23.    Apa hasil tidak langsung dari persepsi adalah representasi

24.    Apa hasil langsung dari persepsi adalah bayangan/skema bayangan

25.    Mengapa terjadi perbedaan persepsi, karena ada the tree of preception

26.    Apa hasil dari sensasi adalah persepsi

27.    Apa antithesis sensasi adalah pengetahuan

28.    Apa sifat sensasi adalah reproduksi

29.    Apa landasan sensasi adalah pengenalan

30.    Apa prinsip sensasi adalah spontanitas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

‘a priori’ dan ‘a posteriori’

  Imanuel Kant dalam Kritik der Reinen Vernunft , membedakan adanya tiga macam putusan (Kant, 1998) . Pertama, Putusan analitis apriori ; dimana predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya (m i salnya, setiap benda menempati ruang). Kedua, Putusan sintesis aposteriori , misalnya pernyataan “meja itu bagus” di sini predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi, karena dinyatakan setelah (=post, bahasa latin) mempunyai pengalaman dengan aneka ragam meja yang pernah diketahui. Dan ketiga, Putusan sintesis apriori ; disini dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan yang kendati bersifat sintetis, namun bersifat apriori juga. Misalnya, putusan yang berbunyi “segala kejadian mempunyai sebabnya” (Burhanuddin, 2013) . Untuk merumuskan tiga macam putusan tersebut, Kant membedakan dua macam putusan, yaitu putusan analitis apriori dan putusan sintesis aposteriori (Noor, 2010) . Dalam putusan analitis yang bersifat aprior...
 

Sulitnya belajar Filsafat

Kesulitan belajar menjadi salah satu kendala dalam terjadinya proses pembelajaran yang efektif (Mary, 2020) . Kesulitan belajar merupakan hambatan yang ditemui seseorang dalam belajar yang dapat muncul dari dalam diri siswa itu sendiri maupun dari luar diri siswa itu sendiri yang menyebabkan siswa tersebut tidak dapat mencapai tujuan pembelajaran (Minarti et al., 2015) . Kesulitan belajar ini juga terjadi pada pembelajaran filsafat (Mary, 2020; Miswari, 2016; Supriyatin, 2022) . Pembelajaran filsafat merupakan proses pembelajaran yang menuntut untuk berpikir tentang sesuatu yang abstrak. Sesuatu yang abstrak yang mempengaruhi pola pikir dan sikap perbuatan mereka sendiri. Menurut Descartes (1955) filsafat merupakan kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. Kita berpikir itulah yang menyebabkan kita ada (Descartes, 1955) . Karena itu, penanda penting manusia hakikatnya adalah kemampuan berpikir itu sendiri. Lalu bagaimana manusia yang tidak...