Langsung ke konten utama

Sulitnya belajar Filsafat

Kesulitan belajar menjadi salah satu kendala dalam terjadinya proses pembelajaran yang efektif (Mary, 2020). Kesulitan belajar merupakan hambatan yang ditemui seseorang dalam belajar yang dapat muncul dari dalam diri siswa itu sendiri maupun dari luar diri siswa itu sendiri yang menyebabkan siswa tersebut tidak dapat mencapai tujuan pembelajaran (Minarti et al., 2015). Kesulitan belajar ini juga terjadi pada pembelajaran filsafat (Mary, 2020; Miswari, 2016; Supriyatin, 2022).

Pembelajaran filsafat merupakan proses pembelajaran yang menuntut untuk berpikir tentang sesuatu yang abstrak. Sesuatu yang abstrak yang mempengaruhi pola pikir dan sikap perbuatan mereka sendiri. Menurut Descartes (1955) filsafat merupakan kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. Kita berpikir itulah yang menyebabkan kita ada (Descartes, 1955). Karena itu, penanda penting manusia hakikatnya adalah kemampuan berpikir itu sendiri. Lalu bagaimana manusia yang tidak mau berpikir?

Sulitnya belajar filsafat karena bahasa filsafat adalah bahasa yang sulit. Orang kesulitan belajar filsafat karena (1) bahasa yang digunakan adalah bahasa analog; (2) objeknya yang ada dan mungkin ada; dan (3) banyaknya objek sehingga terlena tidak mengetahui batas-batasnya (Marsigit, 2021). Objek filsafat itu yang ada dan yang mungkin ada (Susanto, 2021), artinya yang ada: yaitu ada di dalam pikiran. Sedangkan yang mungkin ada yaitu yang ada di luar pikiran.

Kendala belajar ilmu yaitu ego kita masing-masing. Apabila seseorang tidak menginginkan ilmu, maka dia tidak akan mendapat apa-apa. Berfilsafat itu ada dua, yaitu menjelaskan apa yang ada di pikiran, dan memahami apa yang ada di luar pikiran.

 

Daftar Pustaka

Descartes, R. (1955). The philosophical works of Descartes (2nd ed., Vol. 2). Dover Publications.

Mary, E. (2020). Analisis kesulitan belajar materi filsafat pendidikan Kristen pada mahasiswa sekolah tinggi teologi. Jurnal Teologi Praktika, 1(1), 15–29.

Minarti, M., Pitoewas, B., & Yanzi, H. (2015). Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar siswa dalam mengikuti pelaksanaan belajar tuntas. Jurnal Kultur Demokrasi, 3(3). http://jurnal.fkip.unila.ac.id/index.php/JKD/article/view/8052

Miswari, M. (2016). Nasib filsafat di tangan bahasa: Evaluasi kritis filsafat analitik, strukturalisme dan dekonstruksi. JL3T (Journal of Linguistics, Literature and Language Teaching), 2(2), 147–173.

Supriyatin, T. (2022). Analisis pembelajaran filsafat MIPA berbasis daring pada mahasiswa pendidikan biologi di era pandemi Covid-19. EduBiologia: Biological Science and Education Journal, 1(1), 24–29.

Susanto, A. (2021). Filsafat ilmu: Suatu kajian dalam dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Bumi Aksara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

‘a priori’ dan ‘a posteriori’

  Imanuel Kant dalam Kritik der Reinen Vernunft , membedakan adanya tiga macam putusan (Kant, 1998) . Pertama, Putusan analitis apriori ; dimana predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya (m i salnya, setiap benda menempati ruang). Kedua, Putusan sintesis aposteriori , misalnya pernyataan “meja itu bagus” di sini predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi, karena dinyatakan setelah (=post, bahasa latin) mempunyai pengalaman dengan aneka ragam meja yang pernah diketahui. Dan ketiga, Putusan sintesis apriori ; disini dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan yang kendati bersifat sintetis, namun bersifat apriori juga. Misalnya, putusan yang berbunyi “segala kejadian mempunyai sebabnya” (Burhanuddin, 2013) . Untuk merumuskan tiga macam putusan tersebut, Kant membedakan dua macam putusan, yaitu putusan analitis apriori dan putusan sintesis aposteriori (Noor, 2010) . Dalam putusan analitis yang bersifat aprior...