Critique of Pure Reason (Kritik atas Akal Budi Murni) merupakan hasil karya filsuf dari Jerman, Immanuel Kant (1724-1804). Buku ini memiliki judul asli Kritik der reinen Vernunft yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1781 dan direvisi secara substansial di edisi kedua yang terbit pada tahun 1787, lalu dialihbahasakan ke dalam Bahasa Inggris oleh Norman Kemp Smith dengan judul Critique of Pure Reason, terbit pada tahun 1929. Tujuan utama Critique of Pure Reason adalah mendamaikan pertentangan antara rasionalisme dan empirisme (antara akal budi dengan indera) dengan menunjukkan bahwa keduanya saling melengkapi. Imanuel Kant menulis buku ini untuk mengetahui apakah penalaran murni memiliki batas, dan apakah dia bisa digunakan untuk mencapai pengetahuan yang paling murni – dasar, tanpa menggunakan indra perasa atau dipengaruhi oleh objek yang ditelitinya.
Kant memberi pernyataan bahwa pengetahuan dimulai dari pengalaman, namun tidak
berarti bahwa semua pengetahuan berasal dari
pengalaman. Menurut Kant,
a priori adalah benar-benar dari pengalaman, pengetahuan murni. Sedangkan a posteriori berasal dari
pengamatan dan pengalaman, dan berasal dari metode induksi. Kebenaran a
priori dibagi dua, yaitu judgment a priori, yaitu sebuah
kebenaran apabila kita memiliki sebuah proposisi yang mengandung ide
kepentingan dalam konsepsinya; sementara itu absolut a priori adalah
kebenaran yang tidak datang dari proposisi apapun.
Pendapat Kant menyatakan bahwa ada pengetahuan yang memang sudah ada a
priori tanpa kita perlu mengamati untuk mengetahui bahwa pengetahuan itu
adalah benar. Kant menganggap bahwa
pengetahuan a posteriori adalah keinginan manusia untuk merasa nyaman
dalam pengetahuan yang mereka bisa selidiki dan pahami. Manusia takut untuk
bertanya dan menjawab kontradiksi yang tidak bisa mereka buktikan secara
empiris.
Kant kemudian membedakan antara penilaian
analitis dan sintetis. Penilaian analitis adalah mereka yang predikat dan
subjeknya dihubungkan oleh identitas misalnya: “semua tubuh itu berat”; sementara ketika predikat
dan subjek dihubungkan tanpa identitas dia disebut sebagai penilaian sintetis,
misalnya “semua tubuh akan bertumbuh”.
Penilaian sintetis bisa diperoleh tanpa pengamatan dan sudah ada secara a
priori.
Dengan pemahaman ini, Kant lebih jauh
berargumen bahwa dalam semua ilmu sains, pengetahuan a priori adalah
prinsip dasar dalam menentukan langkah selanjutnya. Dia menunjukkannya dalam
bidang matematika, fisika, dan metafisika. Semua hasil matematika adalah
pengetahuan a priori, yang kemudian diamati dan dibuatkan langkah menuju
pengetahuan itu. Kant memberi dua contoh: misalnya “7+5 = 12”, dan “garis lurus
antara dua titik adalah jarak terpendek antara keduanya.” Kedua pengetahuan ini
kita ketahui tanpa menyelidikinya. Penelitian lebih lanjut hanya membantu kita
memastikan pengetahuan ini. Meskipun ada beberapa perhitungan matematis yang
muncul dari pengetahuan analitis, kita hanya bisa membuktikannya melalui
pengamatan sesudah kita menerima rumus tersebut secara a priori. Dalam
fisika, banyak rumus dan presuposisi yang diberikan berasal dari pengetahuan a
priori, dan demikian juga dalam metafisika.
Pure
reason, atau (akal budi) penalaran murni adalah
ketika kita mengetahui sesuatu betul-betul secara a priori. Sementara
itu yang dimaksud dengan transenden adalah
pengetahuan yang diperoleh tanpa keterikatan dengan objek, dan hal ini hanya
bisa kita ketahui melalui pengetahuan a priori. Karena itu filsafat
transendental adalah sistem yang menganut pengertian di atas. Sensibilitas
adalah cara kita mengenali objek, dan pengertian adalah bagaimana kita bisa
memahami objek tersebut.
Bagi Kant, tujuan dari sistem dari penalaran murni adalah untuk membangun
filsafat transendental. Filsafat transendental adalah ide akan sebuah ilmu, di
mana kritik atas penalaran murni harus menggambarkan seluruh rencananya dari
prinsip-prinsip, yang memberi garansi akan kesahihan dan kestabilan semua
bagian yang memasuki sistem berpikirnya. Filsafat ini adalah sistem dari semua
prinsip penalaran murni, dan Critique of Pure Reason bertugas untuk
mengujinya.
To the Critique of Pure Reason,
therefore, belongs all that constitutes transcendental philosophy; and it is
the complete idea of transcendental philosophy, but still not the science
itself; because it only proceeds so far with the analysis as is necessary to
the power of judging completely of our syntethical knowledge a priori (17).
Estetika Transendental
Estetika transendental adalah ilmu dari
prinsip sensibilitas (menerima representasi melalui cara di luar indra perasa yang membuat kita terpengaruh
oleh sang objek) secara a priori. Untuk menuju estetika murni ini, maka
kita harus melepaskan semua indra perasa kita, sehingga kita bisa menemukan
intuisi murni tanpa dipengaruhi oleh fenomena objek yang kita teliti. Hanya
dengan cara inilah kita bisa menemukan pengetahuan a priori yang murni.
Menurut Kant, ada dua bentuk dari hasil indra kita, namun bisa bebas dari
mereka, dan bisa kita ketahui secara a priori, yaitu ruang dan waktu.
Ada beberapa pengertian yang diberikan oleh
Kant mengenai ruang. Konsep ruang datang kepada kita dengan sendirinya tanpa bantuan indra peraba dan pengalaman.
Argumen yang dibangun Kant adalah bahwa ruang selalu ada, dan hanya ada satu
untuk semua orang meskipun bentuknya bisa berubah. Kita semua ada dalam ruang
yang sama yang jumlahnya tak terbatas. Ruang adalah intuisi murni dan bisa
berdiri pada dirinya sendiri meskipun tidak memiliki ukuran atau definisi
empiris.
Geometri, atau ilmu ukur ruang dalam matematika,
adalah ilmu yang membantu kita mengukur ruang. Pemahaman kita akan ruang tidak dipengaruhi oleh fenomena dari
indra peraba kita, dan ruang akan tetap ada meskipun indra peraba kita tidak
ada lagi. Tanpa ruang, kita tidak akan ada, dan kita sepertinya sudah memiliki
ide ini. Semua sensor yang kita miliki tidak membuat kita menjadi tahu tentang
apa ruang itu, namun hanya memperjelasnya.
Demikian juga dengan konsep kita tentang
waktu. Waktu bukanlah konsep empiris yang berhubungan dengan semua indra peraba
kita. Waktu, yang juga tak terhingga seperti ruang, hanya bisa kita ketahui
secara a priori. Kant berpendapat bahwa kita semua terikat di waktu yang
sama. Semua pengetahuan melalui penelitian dan pengalaman terhadap objek
membantu kita untuk memberi makna terhadap waktu. Sesuatu yang tidak terikat
pada ruang tertentu tetap masih harus terbatas pada waktu. Tanpa pemikiran
kita, waktu akan tetap ada dan mengatur kita.
Waktu dan ruang mengikat kita dan semua pengetahuan empiris kita. Wkedua hal ini adalah bentuk paling murni, dan tidak ada lagi di luar kedua hal ini. Pengertian kita tentang ruang dan waktu datang kepada kita secara a priori tanpa bantuan pengalaman. Pengalaman hanya menguatkan pengetahuan yang sudah ada itu. Karena itu, ruang dan waktu adalah kenyataan transenden yang paling murni. Tugas pengetahuan empiris adalah untuk memberi kita makna akan ruang dan waktu yang kita diami. Jika ruang dan waktu adalah ciptaan pikiran kita melalui pengalaman, maka seharusnya kita bisa berimajinasi mengenai apa yang ada di balik mereka. Kita tidak bisa memikirkannya kalau kita dibatasi oleh pikiran empiris kita. Kant berpendapat bahwa estetika trasenden hanya memiliki ruang dan waktu sebagai konsep yang melampaui indra peraba kita yang membuktikan bahwa pengetahuan a priori itu melampaui pengetahuan empiris manusia. Lebih jauh, Kant bahkan mengatakan bahwa pengetahuan empiris pun sebenarnya bukan pengetahuan murni, karena dia adalah fenomena yang datang dari indra peraba kita. Dengan indra, kita hanya bisa mengetahui sebatas yang kita lihat dan yang ada, padahal pengetahuan itu lebih dari sekedar apa yang ada pada sensor peraba kita. Peran dari nalar murni adalah untuk mengetahui batasan ini dan juga batasan pada dirinya sendiri.
Komentar