Langsung ke konten utama

Penerapan Filsafat dan Idiologi Penulisan Artikel sebagai Kewajiban Publikasi Mahasiswa

Kebijakan Publikasi Ilmiah

Publikasi ilmiah memiliki peran penting dan menjadi indikator kemajuan suatu negara. Salah satu upaya untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah, perguruan tinggi mewajibkan calon lulusan S-1, S-2, dan S-3 di Indonesia memublikasikan karya ilmiahnya di jurnal (Surat Edaran Dirjen Dikti 152 E T 2012 tentang Publikasi Karya Ilmiah, 2012). Selain itu, dosen di perguruan tinggi dan peneliti di litbang dalam proses penjenjangan jabatan wajib memublikasikan hasil penelitiannya melalui buku, prosiding, dan jurnal ilmiah, baik nasional maupun internasional (Peraturan Menteri Kementerian Riset, Teknologi, Dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor, 2017). Baik dosen, peneliti, maupun mahasiswa wajib memublikasikan hasil kerjanya dalam bentuk karya ilmiah yang bermutu. Ukuran mutu dapat ditetapkan berdasarkan pengakuan dari pihak luar yang netral dan bertanggung jawab. Dengan demikian, sangatlah wajar apabila sebuah karya ilmiah bermutu harus melewati proses penelaahan (review) yang ketat oleh mitra bestari (reviewer) dan ditunjuk oleh penerbit ilmiah yang bereputasi dan kompeten. 

Publikasi ilmiah merupakan hasil penelitian atau pemikiran yang dipublikasikan dan ditulis dengan memenuhi kaidah ilmiah dan etika keilmuan (Lukman et al., 2019). Selain karya yang dihasilkan harus bermutu, tempat publikasi juga harus dipilih sesuai dengan kriteria, yang menjamin kelayakan suatu naskah (baik dari segi substansi maupun tampilan) sesuai dengan standar dan kaidah yang telah ditentukan. Kewajiban dosen dan peneliti adalah mengomunikasikan ilmu pengetahuan, baik hasil penelitian, pengembangan, pemikiran, kajian, maupun analisis ilmiah. Jadi, publikasi merupakan salah satu jalan bagi akademisi maupun peneliti untuk menunjukkan hasil kerjanya berupa karya tulis ilmiah (KTI) yang diterbitkan.

Melanjutkan penjelasan mengenai kewajiban publikasi bagi mahasiswa, yaitu mahasiswa diharuskan untuk mempublikasikan tugas akhirnya dalam bentuk artikel jurnal sebagai salah satu penentu kelulusan (Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, 2012). Surat edaran ini dilatarbelakangi kuantitas dan kualitas publikasi Indonesia yang sangat minim dibandingkan negara lain (Hariyanto, 2016; Subekti, 2018). Publikasi ini berperan meningkatkan harga diri suatu negara dalam bentuk diplomasi mutu pendidikan dan ilmu pengetahuan. Saat itu hanya mahasiswa S2 dan S3 yang bersekolah di luar negeri yang berperan penting terhadap peningkatan publikasi ilmiah di Indonesia (Handayani et al., 2016). Untuk itu dengan dikeluarkan surat edaran tersebut, mahasiswa Indonesia baik yang belajar di Indonesia maupun di luar negeri memiliki kemampuan menulis artikel ilmiah dan dapat membantu meningkatkan kauntitas dan kualitas publikasi di Indonesia.

Artikel dalam konteks penulisan merujuk pada tulisan ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Artikel ilmiah memiliki pengertian yaitu sebuah tulisan yang berisikan kumpulan ide, gagasan, dan hasil pemikiran dari seseorang atau sekelompok orang yang telah melewati proses penelitian, pengamatan, kajian, dan evaluasi yang kemudian dituangkan kedalam bentuk laporan tertulis sesuai dengan sistematika, metode, dan kaidah yang sudah patenu dan disetujui, sehingga laporan yang dituangkan dalam bentuk tulisan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan dapat diuji kebenarannya untuk selanjutnya dipublikasikan pada jurnal ilmiah nasional maupun internasional (Jatmiko et al., 2015, p. 22).

Berdasarkan jenisnya artikel ilmiah dibedakan menjadi dua, yakni: (1) artikel hasil penelitian dan (2) artikel nonpenelitian berisi hasil pemikiran atau hasil kajian pustaka (Budiharso, 2009). Artikel non-penelitian dapat digali berdasarkan kajian buku-buku teks atau hasil penelitian yang dirangkai menjadi gagasan tersendiri. Artikel ilmiah dapat diangkat dari hasil penelitian, hasil pemikiran dan kajian pustaka, serta hasil pengembangan proyek yang dapat dipublikasikan dalam jurnal, prosiding dan majalah ilmiah (Adhikara et al., 2014; Ismail & Elihami, 2019). (Ismail & Elihami, 2019) mengungkapkan jika artikel ilmiah dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu artikel ilmiah luaran dari hasil penelitian dan artikel ilmiah yang dihasilkan dari kajian-kajian pustaka yang terdahulu.

Filosofi Penulisan Artikel Ilmiah

Menulis adalah aktivitas mengungkapkan gagasan melalui media bahasa (Nurgiyantoro, 2001, p. 298). Menurut Tarigan (2008) menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang-orang dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut. Menulis artikel ilmiah sangat berkaitan dengan publikasi ilmiah. Publikasi ilmiah merupakan sarana pengakuan keilmuan bagi para penulis artikel ilmiah, khususnya di kalangan akademisi (Jatmiko et al., 2015).

Artikel ilmiah dan publikasi ilmiah merupakan topik yang selalu dibicarakan dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Di luar negeri, kalangan akademisi berlomba-lomba menghasilkan ide dan gagasan melalui artikel ilmiah untuk dipublikasikan agar buah pikiran mereka dapat diketahui secara luas. Mereka menganggap bahwa menulis artikel dan publikasi ilmiah sebagai suatu hal yang mutlak dilakukan dalam upaya memberikan kontribusi terbaik untuk ilmu pengetahuan. Semakin banyak artikel ilmiah yang dihasilkan dan dipublikasikan maka semakin banyak pula kontribusi yang diberikan, sehingga secara tidak langsung juga dapat mengangkat nama almamater mereka di mata dunia.

 

Penerapan dalam Kebijakan Publikasi di Perguruan Tinggi

Beberapa hal yang bisa dipertimbangkan dan diterapkan oleh perguruan tinggi, para mahasiswa, dan dosen dalam rangka memenuhi kewajiban memenuhi kewajiban publikasi ilmiah yang direkomendasikan Suweca (2015) dan Fajaruddin (2021) yaitu:

1.     Dewan Redaksi atau Reviewer Publikasi

Perguruan tinggi membuat Dewan Redaksi atau Reviewer yang bertugas menyeleksi karya ilmiah para mahasiswa maupun dosen yang akan dipublikasikan di jurnal ilmiah. Dewan Redaksi atau Reviewer tersebut berasal dari dosen atau pihak yang terpilih oleh perguruan tinggi yang sudah berhasil mempublikasikan karyanya di jurnal nasional dan/atau jurnal internasional.

2.     Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah

Perguruan tinggi diharapkan membuat kegiatan pelatihan penulisan artikel ilmiah secara rutin. Pelatihan penyusunan karya ilmiah ini diharapkan menjadi wahana belajar untuk menghasilkan karya yang memenuhi syarat. Di dalam pelatihan itulah ditransfer mengenai tata cara penulisan karya ilmiah dengan segala persyaratan untuk pemuatannya di sebuah jurnal.

3.     Kerjasama publikasi dengan perguruan tinggi luar negeri

Perguruan tinggi sebaiknya tidak hanya menjalin kerjasama dalam hal pertukaran mahasiswa atau visiting professor, akan tetapi perguruan tinggi bisa menjalin kerjasama publikasi dengan perguruan tinggi di luar negeri (misal: Malaysia, Singapura, Australia, Jepang, dan sebagainya) yang memiliki jurnal ilmiah. Kerjasama antarperguruan tinggi ini akan bermanfaat bagi kelancaran publikasi karya ilmiah secara online jurnal yang dikelola perguruan tinggi tersebut.

4.     Pemberian motivasi

Dalam upaya memberikan dorongan semangat bagi mahasiswa dan dosen dalam penulisan karya ilmiah, pihak perguruan tinggi memberikan motivasi berupa pemberian bantuan atau insentif. Pemberian insentif ini didasarkan jenis publikasi yang dicapainya.

5.     Mata kuliah penulisan artikel ilmiah

Pemberian perkuliahan penulisan artikel ilmiah atau metodologi penelitian akan membantu mahasiswa dalam mempersiapkan artikelnya. Pemberian perkuliahan penulisan artikel ilmiah atau metodologi penelitian pada semester awal diharapkan akan membantu mahasiswa memahami bagaimana melaksanakan riset dan penulisan laporan ilmiah secara baik dan benar.

6.     Pengenalan website jurnal ilmiah

Pengenalan alamat website jurnal-jurnal ilmiah, baik dalam negeri maupun luar negeri sangat membantu baik dosen maupun mahasiswa dalam mengenali dan memahami website jurnal mana yang akan dijadikan tempat publikasi. Pengenalan website ini akan membantu dalam penyesuaian format dan isi jurnal yang baik dan layak dipublikasikan.

7.     Langganan database jurnal bereputasi

Database jurnal bereputasi berisi artikel-artikel berkualitas yang bisa menjadi rujukan dalam penulisan artikel yang baik. Selain itu dengan langganan database ini mahasiswa ataupun dose akan memiliki sumber referensi untuk mendapatkan ide penelitian berkualitas.

8.     Amati, Tiru, dan Modifikasi

Jangan terlalu idealis untuk mendapatkan teori yang sama sekali baru. Berangkatlah dari teori yang sudah ada. Mulailah dari penelitian-penelitian yang dipublikasikan pada jurnal, dan temukan unsur novelty/kebaruannya. Walaupun kebaruannya sedikit tidak masalah, asalkan sudah melengkapi khasanah ilmu pengetahuan.

9.     Penggunaan instrumen penilaian artikel yang baku

Instrumen penilaian artikel digunakan untuk self-assessment. Instrument ini diharapkan akan membantu penulis dalam menyusun artikel dan memilih tempat publikasi yang diinginkannya. Penggunaan instrument ini dapat mengurangi eror penulisan artikel lebih awal.

Struktur Artikel Ilmiah

Artikel ilmiah harus memuat pengantar, metode, hasil, dan pembahasan (dalam urutan ini). Bagian lain yang dapat ditambahkan ke dalam sebuah artikel adalah abstrak, yang merupakan ringkasan dari bagian utama dan, tentu saja, judul makalah. Selain itu, daftar referensi, tabel, dan gambar apapun harus tersedia. Berikut ini panduan penulisan judul, abstrak, pendahuluan, metode, hasil, pembahasan, dan referensi yang disampaikan oleh Ecarnot et al. (2015).

1.     Judul Artikel

Judul artikel harus memuat kata kunci guna merefleksikan isu-isu utama dalam artikel Anda. Judul juga harus membangkitkan minat pembaca potensial dan mengundang hasrat pembaca potensial untuk membaca artikel Anda. Ingatlah bahwa pembaca yang mencari publikasi mengenai topik tertentu pada umumnya akan menggunakan Scopus, Web of Science, PubMed/Medline atau repositori daring lainnya, dan oleh karena itu, judul harus memuat beberapa istilah utama dan kata kuncinya supaya artikel Anda dapat ditemukan dengan mudah melalui Scopus, Web of Science, PubMed/Medline atau repositori daring tersebut. Apabila judul artikel dirumuskan secara asal-asalan, maka penelitian Anda tidak akan pernah diidentifikasi dengan mudah dan tidak akan pernah ditemukan dalam daftar hasil pencarian oleh orang lain, dengan dampak bahwa artikel tersebut tidak akan pernah dikutip oleh orang lain karena mereka tidak dapat menemukan dan membaca artikel Anda. Setelah judul artikel Anda teridentifikasi dan terdaftar di antara berbagai artikel lannya, apabila tidak berada di antara ratusan makalah lainnya pada topik yang sama, maka judul artikel harus membedakan dirinya sendiri dengan merincikan bagaimana caranya artikel berkontribusi terhadap literatur yang ada atau mengisi kesenjangan dalam pengetahuan yang ada.

2.     Abstrak

Abstrak merupakan ringkasan singkat dari artikel dalam beberapa bagian (biasanya latar belakang, metode, dan kesimpulan). Abstrak digunakan dengan tujuan referensi dalam basis data daftar pustaka daring, dan oleh karena itu harus membentuk suatu unit independen yang dapat dipahami sebagai teks yang berdiri sendiri, tanpa harus merujuk kepada teks utuh. Abstrak biasanya juga merupakan item pertama yang akan dilihat oleh pengulas potensial ketika diminta untuk mengulas makalah Anda untuk publikasi dalam suatu jurnal. Oleh karena itu, sangat penting bahwa abstrak bersifat ringkas, namun informatif dan menarik, supaya memberikan gambaran mengenai informasi pertama kepada pembaca dan mengundang hasrat pembaca untuk membaca makalah lengkapnya. Abstrak merupakan sarana pemasaran klasik bagi penelitian Anda sehingga abstrak layak mendapatkan waktu dan pemikiran khusus untuk dipersiapkan.

Ada beberapa poin utama yang harus diingat dalam menulis abstrak, namun ruangan yang tersedia terbilang terbatas, maka penulis harus membuat abstrak tetap ringkas. Abstrak terdiri atas latar belakang, metode, hasil, dan simpulan. Penulis dapat mengambil satu atau dua kalimat dalam bagian pengantar yang dapat digunakan kembali dalam abstrak (mungkin dengan beberapa penyederhanaan yang perlu dilakukan). Demikian pula, hasil penelitian utamanya akan disalin dari bagian hasil penelitian dalam artikel bersangkutan. Kesimpulan dapat dirumuskan sebagai pesan utama yang dapat disampaikan dari penelitian itu.

3.     Pendahuluan

Pendahuluan merupakan hal yang paling penting dalam mendapatkan perhatian pembaca. Secara khusus selama proses pengkajian, pengantar harus membuat pembaca “tertarik,” ingin membaca lebih lanjut, dan berpikir dalam benak mereka sendiri, “Bagaimana mungkin saya tidak pernah berpikiran tentang hal ini?” Jadi, dalam bagian ini penulis akan menjelaskan mengapa penulis melaksanakan penelitian ini, apa yang hendak dicapai oleh peneliti melalui penelitian ini, dan bagaimana caranya penelitian ini memberikan kontribusi tambahan yang bermanfaat bagi sekumpulan bukti yang sudah ada mengenai topik bersangkutan.

Secara konkret, penulis harus mulai menulis dengan menjelaskan secara singkat, menggunakan referensi yang tepat, apa yang sudah diketahui mengenai subjek ini. kemudian, penulis harus mulai menyempitkan bidang penulisannya dan mengidentifikasi area di mana masih terdapat beberapa ketidakpastian, sembari mengutip, di mana saja tepat dilakukan, data dari penelitian sebelumnya (yang mungkin bertentangan). Secara logis, hal ini akan membawa penulis ke dalam deskripsi mengenai celah atau gap dalam ilmu pengetahuan yang diharapkan dapat diisi oleh penelitiannya. Sekarang, setelah menjelaskan bagaimana caranya penelitian akan menyumbangkan hal yang baru dan bermanfaat, penulis harus menyatakan dengan jelas hipotesis penelitian yang dirumuskan, yang disertai dengan tujuan(-tujuan) penelitiannya, dan secara sangat singkat, strategi yang diimplementasikan untuk mencapai sasaran.

Dalam latar belakang, alasan yang mendorong penulis untuk melaksanakan penelitian ini harus diterangkan dengan jelas bagi pembaca dan dibenarkan oleh pernyataan pengetahuan ilmiah dengan referensi yang tepat. Adalah tidak perlu untuk mengutip setiap artikel dalam literatur mengenai topik bersangkutan; seleksi yang cermat atas publikasi yang paling relevan sudah lebih dari cukup. Demikian pula, tidaklah perlu untuk menyatakan kebenaran lazim tampaknya dapat bersifat sangat sederhana atau terlampau jelas. Meskipun demikian, penulis harus mencoba untuk mencapai keseimbangan yang tepat antara informasi latar belakang yang relevan dan detail yang berlebihan. Dalam hal ini, penulis harus mengingat audiens yang menjadi sasaran. Hal ini akan bergantung pada profil jumlah pembaca jurnal yang hendak dijadikan tujuan penyerahan artikel sebagaimana disebutkan. Jika penulis sedang menyasar jurnal khusus, maka latar belakang harus lebih mendetail dan teknis ketimbang jika penulis sedang menyasar audiens non-spesialis dalam bidangnya.

4.     Metode

Tujuan dari bagian metode adalah mendeskripsikan dengan jelas yang dilakukan peneliti dan bagaimana peneliti melakukannya dengan detail yang mencukupi sehingga pembaca rata-rata manapun yang memegang sumber yang sama di tangan mereka akan mampu mereproduksi penelitiannya. Harus ada metode yang dideskripsikan untuk setiap hasil yang hendak dimasukkan peneliti ke dalam bagian hasil penelitian – maksudnya adalah peneliti tidak dapat menyajikan hasil dari suatu tes atau analisis yang tidak disebutkan di dalam metode bersangkutan. Sebaliknya, apabila detail dari suatu prosedur atau suatu keseluruhan prosedur telah dipublikasikan sebelumnya di penelitian yang lain, maka ringkasan hasil penelitian tersebut, yang disertai dengan referensi terhadap publikasi yang relevan, akan mencukupi.

Peneliti harus mengawali bagian ini dengan menguraikan secara terperinci jenis penelitiannya. Pilihan manapun dari metodologi yang tidak lazim untuk desain penelitian harus disertai dengan justifikasi, entah melalui referensi yang tepat atau panduan yang sesuai, atau harus merupakan suatu penjelasan dari konteks spesifik yang memerlukan pendekatan tertentu. Berikutnya, peneliti harus menyertakan deskripsi tentang apa atau siapa yang diteliti olehnya, misalnya populasi penelitian. Prosedur untuk mengidentifikasi pasien yang layak mendapatkan perawatan juga harus diuraikan (konsultasi, penerimaan pasien baru, pemeriksaan harian, rapat staf, rapat kajian kasus, dan lain-lain).

Setelah mendeskripsikan populasi penelitian, peneliti dapat berpindah kepada penjelasan tentang semua metode yang digunakan untuk mengukur semua parameter utama yang dicatat dalam penelitiannya. Peneliti harus menguraikan dengan rinci tujuan akhir pertama dan kedua, dengan metode yang digunakan untuk mengukur tujuan tersebut. Hal ini tentu saja bersifat fundamental mengingat pilihan atas tujuan akhir merupakan hal yang sangat penting bagi keberhasilan penelitian. Adalah kriteria tunggal yang memperbolehkan peneliti untuk menarik kesimpulan akhir mengenai hasil penelitian bersangkutan, dan dengan demikian, kriteria tersebut harus dipilih dengan seksama. Sekali lagi, tujuan ini akan dipertimbangkan secara mendalam selama proses perencanaan. Hal ini sekali lagi menggarisbawahi bagaimana penulisan artikel sangat difasilitasi oleh diskusi yang tepat dan refleksi pada tahap perencanaan dalam proyek penelitiannya.

Kembali kepada metode, setiap tes darah, intervensi, operasi, kuesioner, teknik pencitraan dan lain-lain harus diuraikan secara mendetail, di mana saja diperlukan, dengan memberikan detail manufaktur (nama, kota, dan negara asal perusahaan) untuk setiap peralatan atau uji yang dilakukan. Kalimat pendek dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa setiap pengukuran harus dilakukan. Sub-judul dapat juga digunakan untuk memisahkan bagian metode ke dalam beberapa sub-bagian yang relevan, misalnya: data demografis, ukuran angiografis, perawatan, dan lain-lain.

Suatu catatan singkat yang berhubungan dengan pertimbangan etis harus disertakan di dalam bagian metode, yang menyatakan dengan singkat bahwa persetujuan komite etik atas penelitian yang dilakukan sudah diperoleh (atau jika tidak, berikanlah penjelasan mengapa penelitian ini dilakukan). Anda juga harus mengkonfirmasi bahwa surat persetujuan sudah didapatkan dari semua subjek, atau dari kerabat mereka, atau dari wali mereka, di mana saja diperlukan. Dalam kasus ujicoba klinis acak, disarankan juga untuk mengindikasikan bahwa penelitian yang dilakukan telah diregistrasi dengan basis data ujicoba klinis yang disahkan (misalnya: www.clinicaltrials.gov), dengan mengutip nomor registrasi. Sebagian besar jurnal mengharuskan bahwa nama-nama dari komite etik dan tanggal pengesahan diuraikan dengan terperinci dan bahkan beberapa jurnal mewajibkan bahwa nomor fail harus diberikan. Mungkin pula terdapat beragam rekomendasi mengenai di mana Anda harus menyertakan semua informasi ini. Sekali lagi, perhatikan kembali instruksi bagi para penulis dari jurnal sasaran Anda guna mendapatkan panduan menulis.

Terakhir, paragraf akhir dari bagian metode harus menguraikan secara mendetail analisis statistik. Pernyataan standar mengenai penyajian data harus diberikan terlebih dahulu; misalnya, data kuantitatif yang terdistribusi secara normal disajikan sebagai rerata ± standar deviasi, atau median [kisaran antarkuartal] untuk data yang tidak terdistribusi secara normal, dan data kualitatif sebagai jumlah (persentase). Kemudian, pendekatan statistik spesifik yang digunakan harus dituliskan dengan runtut – uji mana yang digunakan untuk mengukur tipe variabel bersangkutan; tipe analisis multivariat dan variabel yang dimasukkan ke dalamnya; serta pendekatan yang digunakan untuk analisis penyintasan dan lain-lain. Justifikasi ukuran sampel dapat disertakan, dengan menyatakan hipotesis kerja untuk frekuensi hasil dan variansinya, perbedaan yang diharapkan dapat diobservasi, serta resiko alfa dan beta yang digunakan untuk kalkulasi Anda. Level signifikansi untuk analisis, sebagaimana halnya dengan piranti lunak yang digunakan, juga harus disertakan. Analisis sub-kelompok manapun yang terencana harus diuraikan secara mendetail dalam paragraf ini guna menghindari kritikan potensial mengenai penelitian post-hoc dalam sub-kelomopk yang tidak didefinisikan sebelumnya. Harus diingat bahwa analisis sub-kelompok terencana memiliki dampak pada kalkulasi ukuran sampel dan pemakaian analisis ganda dapat memerlukan koreksi Bonferroni guna memastikan bahwa resiko alfa tidak mengalami inflasi. Pertimbangan ini – sekali lagi, setelah diselesaikan selama pengembangn proyek penelitian – harus diuraikan secara mendetail dalam bagian analisis statistik.

5.     Hasil

Tujuan dari bagian hasil adalah mendeskripsikan apa yang diamati tanpa disertai dengan komentar atau pembahasan. Dalam bagian ini, metode tidak perlu dijelaskan kembali; penjelasan mengenai metode sudah dilakukan dalam bagian metode, jadi peneliti hanya perlu menjelaskan tentang hasil penelitian yang diperoleh. Pembaca akan mengingat metode apa yang digunakan apabila mereka membaca bagian metode dengan seksama. Komentar, atau interpretasi, juga tidak perlu diberikan pada bagian ini, sehingga frasa seperti “secara mengejutkan … (surprisingly …)” atau “menariknya … (interestingly …)” secara umum tampak tidak sesuai dengan bagian hasil penelitian. Anda harus mendeskripsikan hasil penelitian untuk setiap metode yang diuraikan dalam bagian metode penelitian, dan supaya artikel itu dapat dibaca dan diikuti dengan mudah, peneliti dapat menyajikan hasil penelitian dalam urutan yang sama seperti menyajikan metode yang digunakan. Demikian pula, menggunakan sub-judul (sekali lagi, sub-judul yang sama seperti yang digunakan dalam bagian metode penelitian), dapat membantu menguraikan hasil penelitian menjadi beberapa bagian yang mudah diikuti.

Paragraf tipikal dalam uraian hasil penelitian harus diawali dengan mengingatkan kembali tentang tipe analisis yang digunakan kepada pembaca (contoh: “Analisis QCA mengungkapkan bahwa… (QCA analysis revealed that …”) dan kemudian uraikanlah hasil yang diamati, dengan merujuk kepada tabel atau gambar yang relevan (contoh: “jumlah luka terbilang lebih tinggi secara signifikan dalam kelompok A dibandingkan dalam kelompok B (the number of lesions was significantly higher in group A compared to group B)”). Perihal metode, hasil penelitian harus disajikan dengan menggunakan past (imperfect) tense: contoh “serum kreatinin berkorelasi dengan laju filtrasi glomerular (serum creatinine was correlated with glomerular filtration rate)”).

Sebuah pertanyaan besar bagi banyak peneliti ketika menuliskan atau menyusun bagian hasil penelitian adalah apakah mereka harus mendeskripsikan hasil penelitian ke dalam bentuk teks atau menggunakan tabel atau gambar. Ketika tidak ada aturan yang tegas bagi hal ini, secara umum, hasil penelitian yang dapat dideskripsikan dalam satu atau dua kalimat dapat dituliskan dalam bentuk teks. Tabel harus digunakan untuk data-data seperti karakteristik dasar (baseline characteristics), hasil, dan perawatan di mana variabel yang sama sedang dideskripsikan untuk dua kelompok atau lebih. Secara umum, tabel juga memuat hasil penelitian yang paling penting, dan dengan sendirinya, harus memadai guna memberikan gagasan yang jelas mengenai temuan Anda kepada para pembaca. Gambar bermanfaat untuk digunakan dalam kasus di mana sumber data terbilang terlalu kompleks untuk penyajian atau tidak dapat diinterpretasikan dengan mudah. Hubungan dan tren dapat digunakan untuk penyajian grafis melalui gambar. Mungkin ada batasan di mana jumlah ilustrasi (gambar dan tabel) yang boleh digunakan, tergantung pada jurnal sasaran, jadi sekali lagi, periksalah panduan sebelum Anda memasukkan terlalu banyak gambar atau tabel. Pastikan juga peneliti tidak memasukkan terlalu banyak ilustrasi, sehingga para pembaca tidak kehilangan minat mereka, dan di atas semuanya ini, jangan mengulangi data yang sudah ditampilkan dalam tabel atau gambar ke dalam bentuk teks.

6.     Pembahasan

Bagian pembahasan ini merupakan bagian di mana peneliti menginterpretasikan dan menjelaskan signifikansi dari hasil penelitian yang diperoleh serta bagaimana hasil penelitian yang diiperoleh tersebut masuk ke dalam gambaran yang lebih besar dari apa yang sudah diamati dan dilaporkan tentang topik yang sama. Bagian pembahasan harus berawal dengan rekapitulasi singkat dari temuan utama dalam penelitian dan lebih disarankan untuk menggunakan rumusan yang sama yang digunakan untuk tujuan utama (dalam pengantar) dan tujuan akhir utama (dalam metode). Hal ini dapat diikuti oleh interpretasi atas hasil penelitiannya. Perhatikan interpretasi peneliti supaya tidak mengulang-ulang hasil penelitian, atau di sisi lain, tidak melakukan interpretasi yang berlebihan. Peneliti harus menyajikan temuan secara faktual; lagipula, artikel ini merupakan artikel ilmiah dan bukan merupakan roman picisan. Misalnya, apabila peneliti menyatakan dalam hasil penelitiannya bahwa “Setelah administrasi obat X, 20 orang dari 25 pasien mengalami pendarahan intracranial (After administration of drug X, 20 out of 25 patients experienced intracranial bleeding),” maka tidaklah akurat untuk mengindikasikan di dalam pembahasan bahwa “80% pasien yang mendapatkan administrasi obat X mengalami pendarahan intracranial (80% of patients who receive drug X have intracranial haemorrhage).” Kalimat ini mengandung pergeseran tak kentara dalam interpretasi yang memungkiri data aslinya. Adalah lebih akurat, misalnya, untuk menyatakan bahwa “hasil penelitian kami mengindikasikan bahwa obat X dapat memiliki dampak buruk yang bersifat signifikan (our results indicate that drug X may have significant adverse effects).”

Menempatkan hasil penelitian dalam perspektif laporan lainnya merupakan suatu bagian yang penting dalam pembahasan. Bagaimanakah caranya hasil penelitian dapat dibandingkan dengan laporan lainnya dalam literatur bersangkutan? Apabila temuannya memiliki perbedaan, apakah peneliti memiliki penjelasan yang masuk akal untuk diberikan? Apa sajakah yang dapat menjadi perbedaan yang mungkin muncul dalam keadaan, populasi, atau pendekatan yang dapat menjelaskan mengapa peneliti mengamati apa yang diamati? Temuan apapun yang sangat mengejutkan atau menarik harus dibahas serta penjelasan yang potensial juga harus dikemukakan. Dapatkah temuan itu diekstrapolasikan ke dalam konteks atau populasi lainnya, dan jika tidak, mengapa demikian? Apabila analisis atau intervensi ganda dilakukan, maka Anda harus berbuat lebih dari sekedar fokus kepada hasil individual guna menjelaskan signifikansi keseluruhan dari hasil penelitian yang diperoleh, ketika semua uji atau analisis dilakukan bersama-sama.

Dalam menyusun bagian ini, sewajarnya peneliti mendeskripsikan apa yang telah dilaporkan oleh para peneliti lainnya dalam konteks serupa guna membandingkan temuan peneliti tersebut dengan temuan Anda sendiri. Ingat bahwa peneliti harus mengkritisi temuan dari peneliti lainnya dengan cara yang diplomatis. Alih-alih menunjukkan kelemahan dari penelitian yang lain, rumuskanlah kembali bagian pembahasan sehingga dapat menunjukkan poin-poin kekuatan utama dalam artikel Anda – implikasi yang ada akan menjadi jelas tanpa harus mengkritik publikasi sesama peneliti dengan cara yang eksplisit. Misalnya, ketimbang menegaskan bahwa “Hasil penelitian yang dilakukan oleh Smith memiliki kekurangan (Smith’s study was underpowered),” adalah berguna untuk mengunakan nada yang lebih halus dan rumusan yang lebih berhati-hati seperti “Hasil penelitian Smith mungkin telah menunjukkan kekurangan (Smith’s study may have been underpowered)” atau yang lebih baik lagi “Hasil penelitian kami memiliki kekuatan statistik yang memadai untuk mendeteksi … (Our study had sufficient statistical power to detect …).” Dalam konteks perbandingan langsung, hal ini memberikan implikasi secara tidak langsung kepada pembaca bahwa hasil penelitian Smith mungkin tidak memiliki kekuatan yang memadai. Bagi para pembaca yang bahasa ibunya bukan merupakan Bahasa Inggris, peneliti harus berhati-hati ketika melakukan paraphrase supaya tidak mengubah penekanan pada kalimat bersangkutan. Urutan di mana hasil penelitian atau elemen pembahasan disebutkan dapat dengan tidak kentara menggeser penekanan tersebut dari posisi yang pada awalnya dikehendaki oleh peneliti yang lain. Di sini lagi, pembacaan ulang yang cermat oleh para rekan peneliti (co-author) dan mentor senior (senior mentor), atau para anggota departemen publikasi (jika ada), akan membantu menghindari perangkap ini.

Temuan baru apa sajakah yang ada dalam penelitian Anda? Menggarisbawahi bagaimana caranya temuan dalam penelitian menghasilkan bukti baru atau kontribusi baru dalam pengetahuan yang ada akan memperkuat nilai penting dari artikel dan nilai tambah artikel tersebut bagi literatur yang ada, ketimbang menjadi “makalah lainnya” pada topik yang “sudah usang.” Dalam hal ini, peneliti dapat membahas apakah makalahnya sudah berhasil atau belum berhasil dalam mengisi “kesenjangan dalam pengetahuan” yang dijustifikasikan dalam bagian pengantar.

Janganlah takut untuk menuliskan artikel yang melaporkan hasil yang negatif. Sebuah penelitian yang dilakukan dengan baik namun tidak memberikan hasil yang positif selalu memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi kumpulan bukti yang sudah ada, dan peneliti dapat membahas dengan tepat hal apa sajakah yang dapat digaungkan dari hasil penelitian ini. Misalnya, hasil penelitian ini dapat berfungsi untuk memajukan pengetahuan dalam bidang yang bersangkutan dengan mempertanyakan ide-ide yang sudah berlaku umum, atau dengan menentang temuan dari beberapa penelitian sebelumnya, atau dengan menguatkan sekumpulan kecil data bertentangan yang sebelumnya telah dianggap sebagai ”anekdot” saja. Selama penelitian sudah dirancang dengan baik dan dilaksanakan dengan tepat, maka tidak ada alasan untuk meyakini bahwa temuan tersebut tidak valid bahkan meskipun temuan ini menunjukkan hasil yang negatif.

Dalam istilah praktis, peneliti dapat mengindikasikan bagaimana caranya hasill penelitiannya memiliki kemungkinan untuk mempengaruhi praktek atau keadaan pengetahuan yang sudah ada. Misalnya, apakah hasil penelitian itu akan mendorong opini umum ke satu sisi atau ke sisi lainnya? Peneliti juga dapat mengindikasikan cara penelitian yang lain bagi penelitian mendatang, secara khusus hipotesis baru yang dapat diajukan melalui observasi pada tujuan sekunder. Akhirnya, satu paragraf singkat yang menguraikan kekuatan dan batasan dalam penelitian dapat bermanfaat. Secara khusus, menguraikan batasan penelitian memberikan beberapa keuntungan. Pertama-tama, uraian mengenai kekurangan penelitian mendorong para pengulas untuk melihat bahwa peneliti menyadari kekurangan dirinya. Kedua, uraian mengenai kekurangan penelitian memberikan suatu kesempatan untuk mempertahankan poin-poin ini dan menyatakan mengapa batasan yang diandaikan dapat sama sekali tidak begitu bersifat negatif.

7.     Referensi

Bagian referensi memuat semua sumber yang telah digunakan sebagai dasar untuk menyusun hipotesis dan membangun penelitian. Adalah etika dan tanggung jawab profesional untuk mendokumentasikan penelitian secara memadai dan memberikan transparansi yang menyeluruh dalam mengidentifikasi sumber adalah diwajibkan pula untuk mengutip sumber-sumber yang dijadikan dasar hipotesis untuk membuktikan bahwa hipotesis tersebut benar-benar merupakan hipotesis yang kokoh. Referensi ini mendukung penelitian dan menempatkannya dalam konteks dari penelitian yang lain dalam topik yang sama sembari pada saat yang bersamaan memberikan panduan bagi para pembaca untuk melibatkan diri dalam pembacaan lebih lanjut atas topik tersebut.

Ketika mengutip referensi, terpisah dari makalah spesifik yang memberikan namanya ke dalam suatu sistem tanda atau klasifikasi, harus memberikan pendahuluan terhadap artikel yang dipublikasikan dalam jurnal berbahasa Inggris dengan sistem peer-reviewed. Mengutip bagian dari buku yang dipublikasikan juga diperbolehkan namun harus sangat spesifik dan menuliskan semua nama dan judul yang jelas dari bab yang dikutip, dengan nomor halaman, dan nama penulis dan/atau editor buku bersangkutan dengan detail publikasinya.

Situs internet, dan juga komunikasi pribadi serta data yang tidak dipublikasikan, sebisa mungkin harus dihindari. Apabila memiliki beberapa referensi yang dapat digunakan, mungkin akan memilih referensi yang paling baru atau referensi yang dipublikasikan dalam jurnal sumber yang paling terpercaya dan bereputasi tinggi. Cobalah untuk memberikan prioritas kepada artikel penelitian yang asli ketimbang ulasan. Apabila ingin mengutip suatu gagasan dari makalah di mana para penulisnya sudah mengutip sumber yang lain untuk ide yang sama, maka peneliti harus kembali kepada artikel yang asli dan memverifikasi ketepatan dari ide yang dikutip; kemudian, harus mengutip penulis yang asli dan bukan makalah perantaranya. Itu tanggung jawab peneliti untuk memastikan akurasi dari semua referensi yang dikutip dan adalah haknya untuk memberikan detail yang memadai sehingga pembaca yang potensial dapat menemukan makalah yang asli tersebut. Peneliti harus memeriksa sendiri akurasi dari setiap referensi, bahkan referensi yang telah diambil dari makalah lain yang sudah dipublikasikan. Menyusun format referensi atau memverifikasi ketepatan referensi tersebut bukan merupakan bagian dari pekerjaan dalam jurnal yang menjadi sasaran.

 

DAFTAR PUSTAKA

Adhikara, M. A., Handayani, S., Jumono, S., & Darmansyah, D. (2014). Pelatihan penyusunan artikel publikasi ilmiah pada mahasiswa perguruan tinggi di Jakarta Barat. Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1(1), 41–53. https://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/ABD/article/view/1189

Budiharso, T. (2009). Panduan lengkap penulisan karya ilmiah: Skripsi, thesis, dan disertasi. Gala Ilmu.

Surat Edaran Dirjen Dikti 152 E T 2012 tentang publikasi karya ilmiah, (2012).

Ecarnot, F., Seronde, M.-F., Chopard, R., Schiele, F., & Meneveau, N. (2015). Writing a scientific article: A step-by-step guide for beginners. European Geriatric Medicine, 6(6), 573–579. https://doi.org/10.1016/j.eurger.2015.08.005

Handayani, T., Hardiyati, R., Nadhiroh, I. M., Amelia, M., & Rahmaida, R. (2016). Kajian saintometrika perkembangan publikasi ilmiah keanekaragaman hayati Indonesia sebagai bahan rekomendasi kebijakan arah penelitian keanekaragaman hayati nasional lap.

Hariyanto, E. (2016). Qua vadis the quality of online scientific journal publishing in State Islamic University (PTKIN). Khizanah Al-Hikmah : Jurnal Ilmu Perpustakaan, Informasi, Dan Kearsipan, 4(1), 76–90. https://doi.org/10.24252/kah.v4i1a7

Ismail, I., & Elihami, E. (2019). Pelatihan penyusunan artikel publikasi ilmiah bagi mahasiswa perguruan tinggi STKIP Muhammadiyah Enrekang. Maspul Journal of Community Empowerment, 1(1), 12–20. https://ummaspul.e-journal.id/pengabdian/article/view/271

Jatmiko, W., Santoso, H. B., Purbarani, S. C., Syulistyo, A. R., Purnomo, D. M. J., Firmansyah, D., Yusuf, M., Arifianti, Q. A. M. O., & Laili, N. A. (2015). Panduan penulisan artikel ilmiah. Universitas Indonesia.

Lukman, L., Ahmadi, S. S., Manalu, W., & Hidayat, D. S. (2019). Pedoman publikasi ilmiah 2019. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

Peraturan Menteri Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen Dan Tunjangan Kehormatan Profesor, Pub. L. No. 20 (2017).

Nurgiyantoro, B. (2001). Menulis secara populer. Pustaka Jaya.

Subekti, N. B. (2018). Rangking publikasi ilmiah internasional Indonesia. OSF. https://doi.org/10.17605/OSF.IO/CMEJD

Suweca, I. K. (2015). Menulis jurnal ilmiah, perlukah dikhawatirkan? Kompasiana. https://www.kompasiana.com/economist-suweca.blogspot.com/5510be48813311363abc6b97/menulis-jurnal-ilmiah-perlukah-dikhawatirkan

Tarigan, H. G. (2008). Menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa. Angkasa.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

‘a priori’ dan ‘a posteriori’

  Imanuel Kant dalam Kritik der Reinen Vernunft , membedakan adanya tiga macam putusan (Kant, 1998) . Pertama, Putusan analitis apriori ; dimana predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya (m i salnya, setiap benda menempati ruang). Kedua, Putusan sintesis aposteriori , misalnya pernyataan “meja itu bagus” di sini predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi, karena dinyatakan setelah (=post, bahasa latin) mempunyai pengalaman dengan aneka ragam meja yang pernah diketahui. Dan ketiga, Putusan sintesis apriori ; disini dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan yang kendati bersifat sintetis, namun bersifat apriori juga. Misalnya, putusan yang berbunyi “segala kejadian mempunyai sebabnya” (Burhanuddin, 2013) . Untuk merumuskan tiga macam putusan tersebut, Kant membedakan dua macam putusan, yaitu putusan analitis apriori dan putusan sintesis aposteriori (Noor, 2010) . Dalam putusan analitis yang bersifat aprior...