Langsung ke konten utama

Politik dan Idiologi Pendidikan Matematika


A.  Politics

Masalah umum pendidikan di Indonesia adalah masalah yang terangkai oleh masalah lain. Diantaranya adalah ketika pendidikan dipandang sebagai komponen industri yang terus menyeret ke semua arah terkait pendidikan. Lembaga pendidikan praktis menjadi lembaga produksi penghasil bahan yang dituntut pasar. Akibatnya, lembaga pendidikan hanyalah “pabrik” untuk memproduksi anak-anak. Ini terkait dengan cara/model guru memberikan arahan terhadap siswa. Guru masih sebagai pusat dalam memberikan pengajaran dan doktrinasi kepada anak-anak yang merupakan bagian dari praktik-praktik pendidikan yang terjadi saat ini. Padahal, seharusnya pendidik/guru terbaik adalah guru yang memiliki sifat liberal, humanis, progresif, sosialis dan demokrasi (Marsigit, 2015).

Pertama adalah conservative, yaitu pendidikan yang universal dan terbebas dari praktik-praktik indoktrinasi. Proses pendidikan bertujuan membangun kemampuan siswa untuk mengenali dirinya sendiri. Guru menempatkan posisinya sebagai fasilitator, dimana para guru memberikan motivasi belajar untuk peserta didiknya.

Ketiga progresif, yaitu pendidikan yang menekankan bahwa hakikatnya pendidikan bukanlah sekedar pemberian sekumpulan pengetahuan pada siswa, melainkan juga serangkaian aktifitas yang mengarah pada pelatihan kemampuan berpikir siswa sedemikian rupa sehingga mereka dapat berpikir secara sistematis melalui cara-cara ilmiah, seperti kemampuan menganalisis, dan pertimbangan termasuk bagaimana mereka menyimpulkan pilihan atau alternatif solusi atas permasalahan-permasalahan mereka.

B.  Science/Knowledge

Berbicara tentang kurikulum, pendidikan di Indonesia masih memuat mata pelajaran sebagai landasan untuk kegiatan belajar mengajar, salah satunya adalah mata pelajaran matematika. Di samping itu, kurikulum Indonesia juga mengedepankan kurikulum berkarakter (Mustamin, 2020), dimana setiap pembelajaran harus berorientasi pada karakter mata pelajaran itu sendiri.

Menurut Marsigit (2011) hakikat matematika, hakikat matematika sekolah, hakikat nilai matematika merupakan aspek pengembangan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah (Marsigit, 2011; Sudrajat et al., 2011). Di sisi lain, secara umum pengembangan karakter harus mampu menjelaskan hakikat karakter itu sendiri yang perlu digali dan dikembangkan. Maka konteks ruang dan waktu serta arah pengembangannya menjadi sangat penting, sehingga menjadi keunikan tersendiri ketika perpaduan antara pengembangan karakter dengan pendidikan matematika sebagai suatu proses pembelajaran yang dinamis yang merentang dalam ruang dan waktu. Pembelajaran berkarakter matematika yang mampu meliputi konteks ekonomi, sosial politik dan budaya bangsa.

C.  Moral Value

Sistem Pendidikan Indonesia mengarah kepada 3 (tiga) teori yaitu: Industrial Trainer dengan nilai moral Good vs Bad, Technological Pragmatis dengan nilai moral pragmatical, dan Old Humanis dengan nilai moral Hierarkhies Paternalistics. Pertama, Industrial Trainer merupakan ideologi borjuis yang mementingkan kepada anak dengan kemampuan yang tinggi, baik dalam kemampuan pemahaman (good vs bad) ataupun tingkatan sosial. Dengan cara pelayanan yang berbeda, maka anak-anak dari para pedagang kecil ataupun pemilik toko masih dianggap sebagai anak yang tidak memiliki kecenderungan untuk belajar, dan mereka hanya diarahkan menuju Back to Basic (tak usah macam-macam, anak SD yang penting cukup bisa Baca, Tulis, dan Hitung). Pandangan seperti itu semakin meluas, misalnya Andrew Bell, berpendapat: “Tidak diusulkan bahwa anak-anak miskin di didik secara mahal, atau semua dari mereka diajarkan untuk menulis dan memecahkan (cipher) (Bell, 1808; Meiklejohn, 1881). Aristoteles menyebut mereka sebagai “ember kosong” yang harus dilatih dan diberi makan fakta-fakta kebenaran oleh guru tanpa diberikan pelayanan lebih.

Kedua, Technological Pragmatism yang secara etis posisinya adalah pragmatis. Teori ini merupakan ideologi yang tidak didasarkan pada prinsip-prinsip etika. Pertimbangan moral didasarkan pada kemanfaatan, dan pilihan ditentukan dengan mengacu pada kepentingan pribadi atau sektoral. Sehingga anak-anak tidak memiliki semangat moral pada saat melaksanakan pembelajaran. Anak-anak hanya dipandang sebagai kapal kosong yang perlu diisi dengan fakta dan keterampilan, ada juga pengalaman sebagai sumber keterampilan, serta penyebaran masa depan mereka di industri. Jadi anak hanya dipandang sebagai ‘alat tumpul’, dipertajam melalui pelatihan, untuk digunakan dalam dunia kerja.

Ketiga, Old Humanis dengan nilai moral Hierarkhies Paternalistics. Teori ini berasumsi bahwa kemampuan pemahaman ditetapkan oleh keturunan, sehingga merugikan mereka yang tidak dijuluki berbakat. Penjulukan tertentu untuk seseorang menurut tanggapan orang lain sesuai dengan bakat mereka, dikenal sebagai pemenuhan diri (Meighan & Harber, 1986). Hasilnya adalah menurunkan tingkat pencapaian mereka yang dijuluki berkemampuan rendah, merusak prestasi matematika.

Dengan keadaan seperti yang disebutkan, sudah sepantasnya Indonesia perlahan menuju kearah teori Progresif Educator dengan nilai moral Humanity dan Public Educator dengan nilai moral Justice Freedom. Pertama adalah Progresif Educator dengan nilai moral Humanity yaitu nilai moral yang kedudukannya merupakan nilai penghubung: Etis tanggung jawab bersandar pada konsep keadilan, pengenalan perbedaan dalam kebutuhan. Hal ini bersandar pada sebuah pengertian yang memberikan pencerahan untuk keharuan dan kepedulian, menganggap anak-anak seperti memiliki hak penuh sebagai individu yang membutuhkan asuhan, perlindungan, dan memperkaya pengalaman untuk memperbolehkan mereka berkembang dengan potensi maksimal mereka. Anak terlihat seperti ‘orang yang tak bersalah’ dan ‘bunga yang tumbuh’ (Ramsden, 1986). Orang yang tak bersalah terlahir baik, seorang individu yang membutuhkan sesuatu dan hak merupakan yang tertinggi, yang belajar dan tumbuh dalam pengalaman fisik dan dunia sosial.

Kedua adalah Public Educator dengan nilai moral Justice Freedom yaitu pemenuhan potensi individu dalam konteks masyarakat, dengan tujuan pemberdayaan dan pembebasan individu melalui pendidikan untuk memainkan peran aktif dalam menentukan nasib sendiri, dan untuk memulai dan berpartisipasi dalam pertumbuhan dan perubahan sosial. Tiga jalinan tujuan tersebut adalah (1). Pemberdayaan penuh seorang individu melalui pendidikan, penyediaan 'alat untuk berpikir' yang memungkinkan anak tersebut untuk mengambil kendali atas kehidupan mereka, dan untuk berpartisipasi penuh dan kritis dalam masyarakat demokratis. (2) Penyebaran pendidikan untuk semua, melalui masyarakat, sesuai dengan prinsip-prinsip egaliter dan keadilan sosial. (3) Pendidikan untuk perubahan sosial, menggerakkan menuju masyarakat yang lebih adil, untuk dunia umumnya dalam hal distribusi kekayaan, kekuasaan dan kesempatan. Secara keseluruhan, ideologi ini berorientasi sosial, dengan epistemologi berdasarkan konstruksi sosial dan berdasarkan etika keadilan sosial.

Nilai-nilai moral dari posisi ini merupakan keadilan sosial, sebuah sintesis dari nilai-nilai yang dipisahkan dan dihubungkan. Dari perspektif dipisahkan menjadi suatu nilai keadilan, hak-hak, dan pengakuan penting dari struktur sosial, ekonomi dan politik. Dari perspektif dihubungkan menjadi menghormati untuk setiap hak-hak individu, yang didasarkan pada tiga nilai-nilai dasar: kesamaanan, kebebasan dan persaudaraan. Ada juga dua nilai lain menurut Lawton (1988) dalam buku Ernest yaitu: partisipasi demokratis dan kemanusiaan.

D.  Theory of Society

Untuk Industrial Trainer, isu-isu sosial dan kepentingan kelompok sosial tidak punya tempat dalam matematika yang benar-benar netral. Anti rasisme, anti seksisme dan bahkan multikulturalisme, semuanya ditolak mentah-mentah. Keragaman sosial tidak menjadi perhatian dalam matematika, artinya memungkinkan bagi siswa pada kasta sosial tinggi untuk membeli pendidikan. Secara sederhana, bagi Industrial Trainer secara agresif mereproduksi keberadaan tatanan sosial dan ketidaksetaraan, serta menjadi monoculturalist dan crypto-racist

Bagi technological pragmatism, berkenaan dengan keanekaragaman sosial dan pendidikan, fokusnya pada kebutuhan utilitarian pekerjaan dan pendidikan lanjutan. Keragaman sosial terlihat dalam hal pekerjaan masa depan, sedangkan budaya, ras dan gender bukan materi cakupan kecuali sejauh mereka berhubungan dengan pekerjaan. Matematika dianggap sebagai netral, kecuali itu diterapkan, dalam hal ini yang berkaitan dengan industri dan teknologi, bukan budaya.

Hampir sama dengan ideologi technological pragmatism, aliran humanist memandang bahwa matematika bersifat objektif dan dipandang sebagai kemurnian serta tidak berhubungan dengan permasalahan sosial, sehingga tidak ada ruang yang diizinkan untuk jalan perbedaan sosial.

Pendidik progresif lebih memilih solusi ganda, dimana aliran ini menjelaskan bahwa matematika membutuhkan keragaman budaya dan ras untuk menghubungkan ke dalam lingkungan budaya lokal setiap anak. Kedudukan ini mengakui adanya perbedaan asal budaya anak-anak dan mencoba memanfaatkan aspek-aspek segi budaya ini dalam pengajaran matematika. Melayani kebutuhan sehari-hari tiap anak dan untuk memberi mereka dukungan emosional dan bantuan untuk membangun penghargaan diri mereka, serta mencegah konflik yang akan terjadi pada mereka. Sebagai konsekuensinya, wilayah konflik lain dihindari atau diperkecil untuk melindungi perasaan anak.

Terakhir terdapat aliran public educator yang mengungkapkan bahwa teori keragaman sosial mencerminkan nilai-nilai yang mendasar dan epistemologi. Jadi kurikulum matematika harus mencerminkan beragam sejarah, budaya dan lokasi geografis dan sumber daya. Perannya dalam konteks non akademik (Ethnomathematics) dan pengakaran dalam semua aspek sosial dan organisasi politik kehidupan modern (lembaga sosial matematika). Secara keseluruhan aliran public educator mengakui keragaman sosial, ditampung dan dirayakan sebagai sentral sifat matematika.

Pada prakteknya di Indonesia, semua pandangan aliran-aliran tersebut terhadap teori keberagaman sosial masih kurang, hal ini diungkapkan oleh Prof. Marsigit pada Pelatihan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran MIPA di FMIPA Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Sabtu, 11 Februari 2012. Beliau menjelaskan bahwa karakteristik pengajaran di Indonesia antara topik dan budaya masih saling terpisah (Marsigit, 2012)

E.  Theory of Students

Pada bahasan sebelumnya tentang kedudukan pendidikan, Prof Marsigit menyatakan bahwa kurikulum hanyalah instrument untuk tujuan egosentris dengan megaprojek besar dengan dalih investasi. akibat dari semua itu adalah kedudukan siswa menjadi “Empty Vessel” yang hanya diisi dengan paradigma behavioral, metode ekpsositori, indoktrinasi, ceramah, motivasi eksternal, sehingga sistem Ujian Nasional tidak selaras dengan cita-cita berkebangsaan Indonesia yang berdemokrasi Pancasila.

Menurut National Middle School Association (USA, 1995) yang dikutip pada silabus Philosophy of Mathematics Education (Marsigit, 2009), menyebutkan bahwa: Jika kita Memahami sifat dan karakteristik perkembangan remaja, maka dapat memfokuskan upaya dalam memenuhi kebutuhan siswa tersebut, mengidentifikasi sifat siswa dalam hal intelektual, sosial, fisik, emosional dan psikologis, dan moral mereka. Pelajar menjadi penasaran, termotivasi untuk berprestasi ketika ditantang dan mampu memecahkan masalah dan berpikir kompleks. Ada kebutuhan yang kuat untuk menjadi bagian dan diterima oleh rekan-rekan mereka sambil menemukan tempat mereka sendiri di dunia, sehingga proses pembelajaran dengan paradigma behavioral, metode ekpsositori, indoktrinasi, ceramah, motivasi eksternal sudah seharusnya di tinggalkan sebagai upaya menuju Indonesia maju dengan semangat merdeka belajar.

Dalam hal moral, mereka idealis dan ingin berdampak pada dunia yang lebih baik. Sebagian besar guru selalu memperhatikan sifat kemampuan siswa, tetapi kurang dalam hal memotivasi kegiatan siswa, karena motivasi merupakan faktor penentu bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Guru harus mampu berinovasi dalam membentuk karakter siswa menjadi lebih baik dalam setiap pembelajaran, baik dalam hal kemampuan maupun moralnya.

Dalam pembelajaran matemtika misalnya, pengembangan karakter di dalam kaitannya dengan pengembangan dan inovasi pendidikan matematika dapat diperoleh melalui berbagai kegiatan yang mencakup semua aspek pembelajaran matematika. Marsigit (2011) membuat butir butir yang dapat dijadikan bahan renungan sebagai bentuk kajian yang berorientasi pada pembentukan karakter.

Pada dasarnya kreativitas dapat dibentuk dan dilatih dalam proses pembelajaran. Sebagaimana kreativitas dapat pula dimatikan dalam proses yang sama. Maka, yang perlu menjadi perhatian bagi para guru sebagai prosesor utama dan agen sosialisasi di sekolah adalah memperhatikan dengan seksama bagaimana proses pembelajaran berlangsung.

Cobalah kita tengok kenyataan yang ada. Kreativitas anak-anak sedikit demi sedikit memudar untuk kemudian mati seiring pertumbuhan usia mereka. Begitu mereka masuk sekolah, secepat itu pula kreativitas mereka menyusut. Semakin tinggi jenjang pendidikan dicapai, semakin hilanglah kreativitas.

Prinsip dasar yang harus dipegang adalah tidak ada belajar tanpa kesalahan. Tanpa ada kesalahan berarti tidak ada belajar. Dalam sebuah iklan sabun digambarkan dengan baik sekali tentang proses menumbuhkan kreativitas anak-anak. Belajar berani kotor. Jangan larang mereka berkalang kotor jika memang untuk berlatih dan menumbuhkan kreativitas mereka harus belepotan kotoran.

Kekeliruan mendasar guru di kelas adalah terlalu mudah menyalahkan siswa ketika mereka membuat kesalahan. Di samping itu, tidak ada penghargaan yang cukup bagi mereka yang bertindak benar dan berprestasi.

Guru harus menganggap siswa memiliki hak penuh sebagai individu dan membutuhkan pengasuhan, perlindungan, dan pengalaman yang memperkaya untuk mereka berkembang ke potensi yang terbaik. Siswa harus dipandang sebagai 'orang liar yang tidak bersalah' dan 'bunga yang tumbuh' (Ramsden, 1986).

Nilai-nilai yang terhubung adalah sumber dari etos pelindung, dan untuk memupuk kreativitas dan pengalaman pribadi. Sebagai bunga yang tumbuh, seorang anak lahir dengan semua yang dibutuhkannya untuk pertumbuhan mental dan fisik secara penuh dan diberi pengasuhan yang tepat, lingkungan dan pengalaman secara mandiri akan berkembang menjadi potensi penuhnya. Rasionalisme menempatkan benih pertumbuhan ini dalam diri anak. Saat terkena pengalaman yang sesuai (empirisme), ini memungkinkan potensiasi penuh dan realisasi manusia, dalam hal pembangunan dan pengetahuan secara keseluruhan.

F.  Theory of Ability

Anak-anak dilahirkan dengan kemampuan yang berbeda, termasuk dalam hal matematika, di Indonesia sendiri, karena orientasi pendidikan masih pada tahap Industrial Trainer, yang mana struktur kurikulum dan pelaksanaan pembelajaran masih menyama ratakan kemampuan siswa. Dengan kata lain kemampuan seseorang ditentukan oleh keturunan, sehingga streaming dan seleksi yang diperlukan untuk memungkinkan anak-anak untuk penyelesaian pada tingkat yang berbeda. Hierarki kualitas lulusan sekolah diperlukan, untuk mengakomodasi berbagai jenis dan kemampuan anak. Anak-anak inferior mungkin lebih baik berada pada diri mereka sendiri jika mereka mencoba cukup keras untuk mengatasi warisan mereka, melalui bantuan diri moral.

Sparrow (1969) mengatakan “Anak bodoh, setelah semua, tidak bisa membantu menjadi bodoh, dan tidak ada kredit kepada anak-anak pintar bahwa mereka lahir dengan otak”. Artinya, setelah semua usaha ditempuh (kerja keras), maka kemampuan bisa berubah, begitupun mereka yang lahir dari seseorang yang memiliki kemampuan baik, tidak menjamin bahwa mereka akan lahir dengan kemampuan yang sama dengan pewarisnya (Ernest, 1985; Ernest et al., 2016).

Effort untuk merubah keadaan yang dialami siswa menjadi penting, baik itu dalam struktur kurikulum maupun dalam pembelajaran. Guru bisa menggunakan berbagai metode atau model pembelajaran untuk membangkitkan kemampuan matematika siswa. Untuk siswa, dengan upaya yang tinggi dengan berpedoman bahwa “aku harus lebih dari orang tuaku” bisa menjadi stimulus untuk terus berjuang dan berusaha memahami matematika.

Guru memiliki peran penting untuk bisa menunjang kebutuhan masing-masing siswa. Kemampuan siswa yang berbeda-beda mendorong guru untuk terus memperbarui kemampuan. Maka dari itu, selain siswa, guru juga memiliki kebutuhan dalam memperbarui kemampuan tersebut.

Kompetensi guru harus lebih ditingkatkan, baik dalam segi kemampuan kognitif untuk mata pelajaran, maupun pedagogik. Kemampuan pedagogik guru menjadi lebih penting untuk bisa menggali potensi dan kemampuan siswa. Kompetensi guru harus bisa mengantarkan siswa kepada kemampuan matematisnya. Guru harus mampu mengembangan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah yang dimulai dengan kompetensi: (1) penelusuran pola dan hubungan (2) kreativitas, imajinasi, intuisi dan penemuan (3) Komunikasi matematika (4) problem solving (5) algoritma untuk memperoleh jawaban-jawaban persoalan matematika, dan (6) interaksi sosial.

Guru bisa menghubungkan konsep budaya atau kultur-kultur kedaerahnnya dengan matematika. Contoh sederhana dalam segi Bahasa, di jawa barat misalnya, bisa menggunakan Bahasa sunda sebagai pengantar untuk anak-anak bisa memahami matematika, begitupun di daerah lainnya. Contoh lain yang sedrhana adalah permainan gundu yang merupakan konsep budaya matematika untuk konsep berhitung.

Guru bisa merngajarkan kemampuan matematika dalam konteks yang sebenarnya (kontekstual), realistis, otentik dan etnomatematik. diantaranya adalah matematika dalam kehidupan sehari-hari. Berikut contoh matematika kontekstual dalam kehidupan sehari-hari: (1) Bangun datar dan Bangun Ruang, yaitu Jenis ini bisa kita lihat langsung dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi kontekstual manakala guru bisa menyampaikan sifat-sifat bangunan tersebut dalam bentuk nyata; (2) Perhitungan geometri, yaitu Perhitungan ini bisa digunakan khususnya dalam membangun rumah. Siswa bisa menggunakan perhitungan tersebut langsung menggunakan busur.

Itulah contoh-contoh sederhana dalam mengajarkan matematika dalam bentuk kontekstual. Guru harus lebih mampu menggali keterkaitan matematika dengan kehidupan sehari-hari yang lebih kontekstual. Selain guru, siswa juga harus diberikan stimulus untuk bisda mengembangkan matematika dalam kehidupan sehari-hari.

G. Aim of Education

Secara filosofis tujuan pendidikan matematika terbentang dari gerakan kembali ke dasar pengajaran aritmatika, sertifikasi, transfer ilmu, kreativitas, hingga mengembangkan pemahaman siswa. https://powermathematics.blogspot.com/2012/10/the-nature-of-mathematics-education aim.html. Menurut Ernest (1994:138) gambaran umum tentang berbagai ideologi dan kelompok ditinjau dari tujuan pendidikan terdapat pada Tabel 1.

Tabel 1. Gambaran Umum Lima Ideologi Pendidikan

Kelompok Sosial Aspek Tinjauan

Pelatih

Industri

Pragmatis teknologi

Old

Humanist

Pendidik

Progresif

Public educator

Tujuan matematis

‘kembali ke dasar’: numerasi dan pelatihan sosial dalam ketaatan

Matematika berguna pada level yg cocok dan sertifikasi (berpusat industri)

Menyebarkan bangunan pengetahuan math (berpusat math)

Kreatifitas, realisasi diri Melalui math (berpusat pada anak

Kesadaran kritis dan kewarganeg araan demokratis

Tujuan matematika pada Industrial Trainer adalah akuisisi berhitung fungsional dan ketaatan. Penguasaan dasar-dasar yang tak terbantahkan harus mendahului segalanya (Letwin, 1988).

Pada tahap ini, siswa hanya dibebankan pada mata pelajaran dasar inti yang mampu mengantarkan mereka pada dunia industri. Siswa hanya dituntut keterampilan, ketaatan dan penghambaan dalam persiapan untuk hidup bekerja.

Tinjauan selanjutnya yaitu pragmatis teknologi, tujuan kelompok ini untuk pengajaran matematika adalah mempersiapkan siswa untuk memenuhi tuntutan pekerjaan dewasa. Tujuan ini memiliki tiga komponen cabang: (1) untuk membekali siswa dengan pengetahuan matematika dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan, (2) untuk mengesahkan pencapaian matematika siswa untuk membantu seleksi untuk kerja, dan (3) teknologi lebih lanjut secara menyeluruh, seperti dalam kesadaran komputer dan keterampilan teknologi informasi.

Tinjauan lain tentang tujuan pendidikan datang dari kelompok Old Humanist. Tujuan kelompok ini adalah sebuah perhatian dengan penyebaran ilmu matematika, budaya, dan nilai. Tujuannya adalah untuk menyebarkan matematika murni, dengan perhatian pada struktur dan tingkat konseptual, dan subjek.

Matematika dianggap sebagai pusat warisan budaya dan penghargaan intelektual. Konsep ini mengenyampingkan pembelajaran dan proses pendidikan yang harus didapat oleh siswa. Bagi kelompok ini, pendidikan dari ahli matematika murni merupaka unsur keelitan dan menjadi sangat penting untuk ahli matematika dimasa depan.

Tinjauan selanjutnya yaitu Pendidikan Progresif dengan arah orientasi pada kreatifitas, realisasi diri dan berpusat pada anak. Menurut perspektif ini, tujuan manusia adalah perkembangan diri dan pemenuhan pribadi dari setiap individu dalam ‘menjadi seorang manusia’ (Rogers, 1995).

Tujuan pendidikan adalah untuk mendorong pertumbuhan kreatifitas siswa, ekspresi diri dan pengalaman banyak hal yang mendorong mereka mendapatkan kesuksesan. Proses pembelajaran selalu berpusat pada siswa, mengarahkan siswa berfikir kreatif dan bersifat maju.

Tinjauan terakhir yaitu public educator (Public Educator). Tujuan matematis kelompok ini adalah mengembangkan demokrasi kewarganegaraan melalui pemikiran kritis dalam matematika. Setiap siswa harus memiliki sifat percaya diri dalam mengemukakan konsep matematika dalam tatanan sosial. Kelompok ini membantu siswa untuk terlibat dalam proses pembelajaran matematika yang tertanam dalam sosial siswa dan konteks politik. Kelompok ini juga bertujuan pada kemajuan keadilan sosial bagi semua masyarakat.

H. Theory of Learning

Menurut teori Industrial Trainer, semua kesuksesan dalam belajar tergantung pada aplikasi individu, kerja keras dan latihan serta hafalan yang dilakukan oleh seseorang kana berdampak pada kesuksesan. Teori ini selalu bersifat individualistis.

Sebagai contoh, anak yang memiliki pemahaman matematika akan lebih sulit ketika mengajarkan kepada orang yang tidak memiliki bakat matematika. Kaitannya pada proses pembelajaran, guru masih menggunakan model pembelajaran yang pragmatis seperti latihan dan hafalan. Anak kelas 3 SD diwajibkan untuk menghafal perkalian tanpa sebuah konsep awal.

Sedikit bergeser menurut teori pragmatis teknologi. Pada teori ini, selain pengetahuan, keterampilan menjadi sangat penting terutama melalui pengalaman praktis.

Dalam pembelajaran matematika, siswa bisa diikutsertakan dalam “magang” seperti program kerja lapangan. Siswa dituntut untuk mempraktekan mengajar kepada siswa lain kaitannya dengan pembelajaran yang telah didiapat.

Pada tahap selanjutnya, terdapat teori humanist, dimana pembelajaran matematika bukan hanya sekedar dipahami, lebih dari itu bisa diterapkan. Sebagai contoh, dalam pembelajaran sudut dalam segitiga atau pada materi trigonometri, siswa harus bisa menerapkan materi tersebut pada penentuan arah kiblat atau penentuan awal puasa dan lebaran.

Di kolom berikutnya, terdapat teori pendidikan progresif, teori ini melambangkan teori belajar dengan bermain dan eksplorasi. Aktivitas bermain merupakan cara ampuh untuk bisa menyenangkan hati siswa dalam pembelajaran matematika. Belajar harus seperti bermain dan mengeksplorasi diri, mengurangi beban dalam setiap pembelajaran merupakan bagian terserapnya ilmu tersebut, dan matematika bisa dijadikan hobi pada saat pembelajaran. Sebagai contoh, kita bisa bermain matematika dengan bantuan domino sebagai alat dalam memahami pecahan.

Teori terakhir yaitu pendidikan masyarakat. Teori ini mengusung tema mempertanyakan, pembuatan keputusan dan negosiasi. Jadikan belajar sebagai bahan kritis untuk sebuah pemahaman, dan negosiasi menjadi alat bantu untuk menjadikan pengetahuan lebih melekat, sehingga pada saatnya nanti terjun ke masyarakat, siswa sudah terlatih untuk bisa membuat keputusan.

Sebagai ilustrasi, ada siswa yang sedang belajar trigonometri, anak tersebut sangat kritis karena ingin mengetahui banyak hal terkait tata cara menentukan awal puasa. Negosiasi terus dilakukan kepada gurunya tentang bagaimana dia bisa mendapatkan ilmu tersebut walaupun secara individualis. Setelah siswa tersebut memahami materi tersebut, siswa tersebut ikut melakukan observasi di BMKG. Teori yang didapat dari gurunya dia terapkan disitu, dari pengalaman tersebut, siswa bisa mengambil sebuah keputusan awal puasa dan memberikan penjelasan kepada masyarakat.

Dari teori-teori tersebut, terdapat cuitan yang menarik dari Prof. Marsigit didalam blog nya (https://powermathematics.blogspot.com/2012/11/peta-3-peta-pendidikan-dunia-dibuat.html). Beliau mengatakan bahwa: “Tiga kolom sebelah kiri, mengimplementasikan Pendidikan dengan sangat Formal, sedangkan dua kolom sebelah kanan mengimplementasikan pendidikan meliputi Formal dan Informal dengan mengembangkan Variasi Metode, Variasi Interaksi, dan variasi Media”. Artinya, penerapan teori belajar di Indonesia harus bisa terus bergerak maju ke arah sebelah kanan tabel. Variasi metode dan interkasi serta kemampuan lain harus benar-benar dimiliki oleh guru sebagai bagian dari sarana anak-anak untuk belajar.

I.    Theory of Teaching

Industrial Trainer memposisikan pengetahuan matematika benar-benar sebagai aliran fakta untuk dipelajari dan diterapakan. Menurut Paris mengatakan bahwa “matematika itu bukan bersenag-senang”. Artinya pemahaman matematika hanya bisa didapat dari kerja keras, usaha dan disiplin diri (Ernest, 1991). Teori ini bersifat otoriter yang menyajikan pengajaran matematika hanya dengan transmisi pengetahuan (Transfer of Knowledge) dan tidak ada unsur lain. Menurut Froome (1970) mengatakan bahwa tidak ada yang namanya pembelajaran matematika dirubah dalam bentuk informalitas dengan cara senang-senang, mengajar adalah menggiling keras untuk mendapatkan pengetahauan.

Berbeda dengan Industrial Trainer, pragmatis teknologi menyatakan bahwa pengajaran matematika melibatkan unsur keterampilan dan motivasi yang fokus nya adalah seni mengajar seni penerapan matematika. Setidaknya, menurut (Burkhardt, 1981) ada pemodelan tiga kegiatan yang menjadi unsur seni dalam pengajaran, diantaranya: (1) Praktik dalam menangani masalah lengkap; (2) Latihan pada keterampilan pemodelan tertentu; (3) Pengembangan kesadaran strategi yang efektif.

Teori Old Humanist menitik beratkan kepada pengajar (guru). Guru harus membuat percobaan nyata untuk mengajar subjek yang dia ajar sebaik mungkin dan harus menjelaskan secara terperinci kebenaran kepada siswanya hingga batas kesabaran dan kapasitas mereka.

Sedangkan menurut teori pendidik progresif, teori pengajaran tidaklah cukup menekankan peranan guru. Guru hanya memiliki tiga peranan penting, diantaranya: (1) Guru menengahi antara bahan ilmu matematika dan pelajar. Hal ini penting dalam membangun lingkungan belajar dan dalam perencanaan pengalaman belajar. (2) Guru harus memantau pembelajaran anak dan intervensi. Hal ini penting sebagai komunikasi dua arah dan mengatur perintah pada anak, menantang anak untuk memikirkan ulang tanggapan dan mengatur interaksi. Guru menyiapkan Peranan. Guru harus terbiasa memberikan contoh kebiasan dan interaksi sosial. Guru merupakan pusat proses pendidikan.

Menurut teori public educator, mengajar perlu demokratis dan terbuka sebagai kekuatan asimetri dari kelas yang memungkinkan, tetapi dengan pengakuan eksplisit dari asimetri ini. Guru perlu memainkan peran ketua netral atau advokat dalam diskusi, jujur mengungkapkan pandangannya mengenai isu-isu kontroversial. Guru juga memiliki tanggung jawab sebagai bagian dari konteks sosial yang nyata yang mengelilingi situasi sekolah.

Menurut Ernest (1991, p. 208) menyebutkan bahwa teori mengajar mencakup sejumlah komponen: (1) Diskusi dengan sungguh-sungguh, baik siswa-siswa dan siswa-guru, karena belajar adalah konstruksi sosial bermakna; (2) Tugas kelompok (kooperatif), kerja proyek dan pemecahan masalah, untuk kepercayaan diri, keterlibatan dan penguasaan; (3) Proyek otonom, eksplorasi, problem posing dan bekerja investigasi, untuk kreativitas, arah diri siswa dan keterlibatan melalui relevansi pribadi; (4) Pelajar mempertanyakan isi kursus, pedagogi dan motode penilaian yang digunakan, untuk berpikir kritis; (5) Bahan yang relevan secara sosial, proyek dan topik, termasuk ras, gender dan matematika, untuk keterlibatan sosial dan pemberdayaan.

J.   Resources

Menurut ideologi Industrial Trainer, sumber daya untuk belajar yang paling terpenting adalah kualitas guru dibandingkan peralatan lain. Kertas dan pensil merupakan sumber belajar bukan pada sumber daya yang menarik, permainan, teka-teki atau televisi. Alat bantu praktis dalam perkembangan matematika merupakan pemasok pendidikan yang telah rilis di pasar, dan ini menjadi bahaya yang sangat nyata dari guru menempatkan penekanan terlalu besar karena hanya menjadikan mereka trendi dan modis. Secara khusus, Industrial Trainer membatasi alat seperti kalkulator karena akan mencegah pengembangan keterampilan komputasi.

Berbeda dengan Industrial Trainer, ideologi technological pragmatism menempatkan sumber daya sebagai peran penting dalam pandangan pedagogi. Penggunaan sumber daya oleh guru bisa mengggambarkan peran guru dan memotivasi untuk mengajar. Siswa perlu memiliki pengalaman praktis, sehingga keterampilan tekonologi informasi sangat penting bagi pembelajaran siswa. Seperti berpegang langsung pada komputer, video interaktif dan sumber daya yang serupa.

Ideologi humanis menempatkan sumber penjelasan langsung oleh guru merupakan pekerjaan yang berguna dalam mempelajari matematika, terutama bagi tingkat dasar. Kalkulator dan komputer bisa digunakan manakala siswa telah menguasai konsep dasar dan hanya untuk memotivasi atau memfasilitasi.

Ideologi pendidik progresif menempatkan teori sumber pendidikan matematika memainkan sebuah bagian pusat, dan pembelajaran akan dimengert jika melibatkan aktifitas. Sehingga ruang kelas harus “kaya” akan peralatan untuk memudahkan pembentukan konsep dan gambaran dan gambaran luas untuk gagasan matematika. Pembelajaran matematika bisa menghubungkan dengan pengalaman siswa dan bisa menjadi sumber untuk penjelasan diri.

Pandangan terakhir datang dari ideologi public educator. Ideologi ini memiliki pandangan bahwa belajar harus aktif, bervariasi, terlibat secara sosial dan mengatur diri sendiri. Teori tersebut memiliki tiga komponen utama: (1) Sumber daya praktis untuk memfasilitasi pendekatan pengajaran aktif; (2) penyediaan bahan otentik, seperti koran, statistik resmi, dan seterusnya untuk studi sosial yang relevan dan terlibat secara sosial dan investigasi; (3) Fasilitasi kontrol pengaturan diri siswa dan akses untuk sumber daya Belajar.

K. Evaluation

Pandangan Industrial Trainer dalam penilaian adalah tes. Ini digunakan untuk memeriksa perolehan siswa terhadap pengetahauan dan keterampilan. Diperlukan target yang sederhana dan jelas tentang kemampuan siswa. Pengujian menyediakan standar eksternal, dan jika siswa dilindungi dari kegagalan, maka tes adalah palsu.

Hampir sama dengan Industrial Trainer, ideologi technological pragmatism memiliki pandangan bahwa tes eksternal untuk memberikan sertifikasi pencapaian dan keterampilan, tetapi jika siswa memiliki akademis yang kurang, penenkanannya adalah catatan profil prestasi dan keterampilan (portofolio).

Pada pandangan pendidik progresif, teori nilai lebih mengarah pada penghargaan positif dari seorang guru kepada siswanya dengan menghindari kegagalan dan penjulukan kreasi anak sebagai ‘kesalahan’. Taksiran kesalahan tidak masuk dalam kategori penilaian karena dikhawatirkan akan merusak perkembangan anak.

Perbaikan kesalahan pada pekerjaan anak dihindari, atau dirumuskan kembali dalam beberapa cara atau metode untuk menghindari pembuatan kesalahan yang sama. Kebutuhan siswa adalah mendapatkan ungkapan pelembut dari seorang guru untuk sebuah kesalahan atau kegagalan yang telah dilakukan oleh siswa.

Teori penilaian terakhir datang dari public educator. Ideologi ini menilai langkah-langkah kompetensi dan kemampuan positif dalam matematika tanpa membandingkan kemampuan siswa satu sama lain. Penilaian yang wajar atas sebuah kompetensi siswa tanpa memandang jenis kelamin, rasa, atau variabel sosial lainnya untuk mengurangi persaingan. Dengan demikian, berbagai bentuk penilaian dapat digunakan termasuk profil atau catatan prestasi, perluasan proyek dan ujian. Tugas penilaian dan hasil harus terbuka untuk diskusi murid, penelitian dengan cermat dan negosiasi mana yang sesuai (seperti dalam catatan prestasi), dan siswa memilih topik untuk penyelidikan dan kerja proyek. Isi tugas penilaian seperti proyek dan pertanyaan ujian akan mencakup secara sosial penanaman masalah matematika dan memerlukan pemikiran kritis tentang peran sosial matematika.

L.  The Nature Curriculum

Industrial Trainer menempatkan keterampilan dasar matematika, baik numeris dan grafis, bersama sama dengan kemampuan untuk menerapkan keterampilan-keterampilan dalam situasi sehari-hari merupakan instrumen kurikulum. Subjek seperti sosiologi, studi perdamaian, studi dunia dan pendidikan politik tidak memiliki tempat dalam kurikulum sekolah.

Sedangkan pragmatis teknologi menempatkan kurikulum berbasis pada mata pelajaran dengan komposisi mata pelajaran inti adalah bahasa Inggris, matematika dan ilmu pengetahuan. subjek dasar lain adalah teknologi yang merupakan pelajaran dasar atau penunjnag pada setiap mata pelajaran.

Aliran humanist tetap berada pada pandangan ‘klasik’ kurikulum, yaitu penekanannya pada struktur dan penalaran, dan di atas semua keunggulan dan kebudayaan. Dalam tradisi klasik, kebudayaan tergantung pada peralatan berkonsep hebat, dugaan yang stabil, dan sebuah komunitas terpandang. Itu artinya, semua kurikulum harus terintegrasi pada nilai kebudayaan.

Pendidik Progresif mengartikan Kurikulum sebagai istilah aktivitas dan pengalaman dari pada pengetahuan yang diperoleh dan fakta yang disediakan. Tujuannya seharusnya untuk mengembangkan kekuatan fundamental manusia dalam seorang anak (Ernest, 1991).

Public educator memposisikan kurikulum sebagai pemenuhan potensi individu dalam konteks masyarakat. Jadi tujuannya adalah pemberdayaan dan pembebasan individu melalui pendidikan untuk memainkan peran aktif dalam menentukan nasib sendiri dan untuk memulai dan berpartisipasi dalam pertumbuhan dan perubahan sosial.

Secara keseluruhan, ideologi public educator berorientasi sosial dengan epistemology berdasarkan konstruksi sosial dan berdasarkan etika keadilan sosial. Selanjutnya, ada aliran kurikulum berbasis teknologi informasi era industri 4.0. Teknologi mulai diterapkan dalam pendidikan karena adanya pandangan, bahwa science diyakini dapat meningkatkan kualitas hidup manusia. Munir (2009) mengungkapkan bahwa penggunaan TIK dalam pendidikan berkembang melalui tiga tahap, yaitu: Pertama, Penggunaan Audio Visual, yaitu alat bantu berbentuk audio (memanfaatkan pendengaran) dan Visual (memanfaatkan penglihatan) di kelas untuk menyampaikan materi pembelajaran. Kedua, Penggunaan materi-materi berprogram. Materi pembelajaran merupakan materi pembelajaran yang diambil dari mata pelajaran. Ketiga, Penggunaan komputer dalam Pendidikan, yaitu Peningkatan produktivitas dapat dicapai melalui penggunaan teknologi. Perkembangan teknologi telah mengubah masyarakat dari industri menjadi informasi, ditandai dengan tumbuh dan berkembangnya masyarakat berpendidikan yang berbasis teknologi informasi atau computer baik dari segi software maupun hardware.

DAFTAR PUSTAKA

Bell, A. (1808). Sketch of a national institution for training up the children of the poor in moral and religious principles, and in habits of useful industry: Extracted from the Madras School, Or, Elements of Tuition. J. Murray.

Burkhardt, H. (1981). The real world and mathematics. Birkhauser.

Ernest, P. (1985). The philosophy of mathematics and mathematics education. International Journal of Mathematical Education in Science and Technology, 16(5), 603–612.

Ernest, P. (1991). The philosophy of mathematics education: Studies in mathematics education. Routledge Falmer.

Ernest, P., Skovsmose, O., Van Bendegem, J. P., Bicudo, M., Miarka, R., Kvasz, L., & Moeller, R. (2016). The philosophy of mathematics education. Springer Nature.

Froome, S. H. (1970). Why Tommy isn’t learning. Tom Stacey Books.

Letwin, O. (1988). Aims of schooling: the importance of grounding. Centre for Policy Studies.

Marsigit, M. (2009). Syllabus philosophy of mathematics education. http://staffnew.uny.ac.id/upload/131268114/pendidikan/Handout_Philosophy+of+Mathematics+Education_+Program+S1+Bilingual+Pendidikan+Matematika_by_Dr+Marsigit+MA.pdf

Marsigit, M. (2011). Pengembangan karakter dalam pendidikan matematika.

Marsigit, M. (2012). Pendidikan karakter dalam pendidikan MIPA.

Marsigit, M. (2015). Politics and ideology of education. https://www.academia.edu/17853326/Politics_and_Ideology_of_Education

Meighan, R., & Harber, C. (1986). Democratic Learning in Teacher Education: a review of experience at one institution. Journal of Education for Teaching, 12(2), 163–172. https://doi.org/10.1080/0260747860120205

Meiklejohn, J. M. D. (1881). An old educational reformer, Dr Andrew Bell. W. Blackwood.

Munir, M. (2009). Kurikulum berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.

Mustamin, K. (2020). Strategi optimalisasi penanaman nilai-nilai pendidikan islam pada implementasi Kurikulum 2013 di SMA Negeri 10 Bulukumba. JPPI (Jurnal Pendidikan Islam Pendekatan Interdisipliner), 4(1), 31–42.

Ramsden, M. (1986). Competing ideologies of the child. University of Exeter, School of Education.

Rogers, C. R. (1995). On becoming a person: A therapist’s view of psychotherapy. Houghton Mifflin Harcourt.

Sparrow, J. (1969). Egalitarianism and an Academic Élite. In The Critical Survey (pp. 64–66). JSTOR.

Sudrajat, A., Zuchdi, D., Mardapi, D., Tanumiharja, E., Sofyan, H., Jumadi, J., Sugiyarto, K. H., Astuti, K. S., Marsigit, M., Marzuki, M., Muhadjir, N., Wahab, R., Samsuri, S., Sardiman AM, Slamet PH, Suharjana, S., Sukadiyanto, S., Madya, S., Suyata, S., … Prasetyo, Z. K. (2011). Pendidikan karakter dalam perspektif teori dan praktik (Darmiyati Zuchdi (ed.)). UNY Press.

Marsigit:http://just4math.blogspot.com/2015/01/menggapai-jejaring-sistemik-dalam dunia.html

https://powermathematics.blogspot.com/2012/11/peta-3-peta-pendidikan-dunia-dibuat.html

https://powermathematics.blogspot.com/2012/11/peta-1-peta-pendidikan-dunia-dibuat.html

https://powermathematics.blogspot.com/2009/09/wajah-dan-raport-pendidikan-indonesia.html

https://powermathematics.blogspot.com/2009/09/wajah-dan-raport-pendidikan-indonesia.html

https://www.academia.edu/17853326/Politics_and_Ideology_of_Education

Komentar

Postingan populer dari blog ini

‘a priori’ dan ‘a posteriori’

  Imanuel Kant dalam Kritik der Reinen Vernunft , membedakan adanya tiga macam putusan (Kant, 1998) . Pertama, Putusan analitis apriori ; dimana predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya (m i salnya, setiap benda menempati ruang). Kedua, Putusan sintesis aposteriori , misalnya pernyataan “meja itu bagus” di sini predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi, karena dinyatakan setelah (=post, bahasa latin) mempunyai pengalaman dengan aneka ragam meja yang pernah diketahui. Dan ketiga, Putusan sintesis apriori ; disini dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan yang kendati bersifat sintetis, namun bersifat apriori juga. Misalnya, putusan yang berbunyi “segala kejadian mempunyai sebabnya” (Burhanuddin, 2013) . Untuk merumuskan tiga macam putusan tersebut, Kant membedakan dua macam putusan, yaitu putusan analitis apriori dan putusan sintesis aposteriori (Noor, 2010) . Dalam putusan analitis yang bersifat aprior...
 

Penerapan Filsafat dan Idiologi Penulisan Artikel sebagai Kewajiban Publikasi Mahasiswa

Kebijakan Publikasi Ilmiah Publikasi ilmiah memiliki peran penting dan menjadi indikator kemajuan suatu negara. Salah satu upaya untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah, perguruan tinggi mewajibkan calon lulusan S-1, S-2, dan S-3 di Indonesia memublikasikan karya ilmiahnya di jurnal (Surat Edaran Dirjen Dikti 152 E T 2012 tentang Publikasi Karya Ilmiah, 2012) . Selain itu, dosen di perguruan tinggi dan peneliti di litbang dalam proses penjenjangan jabatan wajib memublikasikan hasil penelitiannya melalui buku, prosiding, dan jurnal ilmiah, baik nasional maupun internasional (Peraturan Menteri Kementerian Riset, Teknologi, Dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor, 2017) . Baik dosen, peneliti, maupun mahasiswa wajib memublikasikan hasil kerjanya dalam bentuk karya ilmiah yang bermutu. Ukuran mutu dapat ditetapkan berdasarkan pengakuan dari pihak luar yang netral dan bertanggung jawab. Deng...