Langsung ke konten utama

Filsafat itu Berpikir

Berbicara mengenai filsafat dalam pikiran saya tak terlepas dari tokoh-tokoh filsuf terkenal Plato, Socrates, Friedrich Nietzsche, Imanuel Kant dan sebagainya. Filsafat merupakan studi tentang hakikat realitas dan keberadaan, soal apa yang mungkin diketahui serta perilaku yang benar atau salah. Filsafat berasal dari kata Yunani philosophia yang berarti cinta kebijaksanaan.

Filsafat itu berpikir, dengan berfikir maka aku hidup. Aku berpikir maka aku ada (cogito ergo sum) (Descartes & Žižek, 2013). Penanda pentingnya manusia adalah kemampuan berpikir itu sendiri (Susanto, 2017). Untuk inilah, jika Anda ingin dianggap manusia hendaklah berpikir. Dasar berfilsafat adalah spiritualitas. Muara belajar berfilsafat yaitu memperkokoh iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tidak semua berpikir itu bisa diartikan sebagai berpikir filsafat. Prof. Mulder mengungkapkan bahwa berpikir ilmiah itu mengandung khasiat-khasiat tertentu, yaitu mengabstrahir pokok persoalan, bertanya terus sampai batas terakhir yang beralasan dan berelasi (sistem).


Daftar Pustaka
Descartes, R., & Žižek, S. (2013). Cogito ergo sum. AlboVersorio.
Susanto, H. (2017). Filsafat ilmu telaah kritis atas hakekat dan cara kerja ilmu pengetahuan. P2MP Spectrum Press Ponorogo.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

‘a priori’ dan ‘a posteriori’

  Imanuel Kant dalam Kritik der Reinen Vernunft , membedakan adanya tiga macam putusan (Kant, 1998) . Pertama, Putusan analitis apriori ; dimana predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya (m i salnya, setiap benda menempati ruang). Kedua, Putusan sintesis aposteriori , misalnya pernyataan “meja itu bagus” di sini predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi, karena dinyatakan setelah (=post, bahasa latin) mempunyai pengalaman dengan aneka ragam meja yang pernah diketahui. Dan ketiga, Putusan sintesis apriori ; disini dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan yang kendati bersifat sintetis, namun bersifat apriori juga. Misalnya, putusan yang berbunyi “segala kejadian mempunyai sebabnya” (Burhanuddin, 2013) . Untuk merumuskan tiga macam putusan tersebut, Kant membedakan dua macam putusan, yaitu putusan analitis apriori dan putusan sintesis aposteriori (Noor, 2010) . Dalam putusan analitis yang bersifat aprior...
 

Penerapan Filsafat dan Idiologi Penulisan Artikel sebagai Kewajiban Publikasi Mahasiswa

Kebijakan Publikasi Ilmiah Publikasi ilmiah memiliki peran penting dan menjadi indikator kemajuan suatu negara. Salah satu upaya untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah, perguruan tinggi mewajibkan calon lulusan S-1, S-2, dan S-3 di Indonesia memublikasikan karya ilmiahnya di jurnal (Surat Edaran Dirjen Dikti 152 E T 2012 tentang Publikasi Karya Ilmiah, 2012) . Selain itu, dosen di perguruan tinggi dan peneliti di litbang dalam proses penjenjangan jabatan wajib memublikasikan hasil penelitiannya melalui buku, prosiding, dan jurnal ilmiah, baik nasional maupun internasional (Peraturan Menteri Kementerian Riset, Teknologi, Dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor, 2017) . Baik dosen, peneliti, maupun mahasiswa wajib memublikasikan hasil kerjanya dalam bentuk karya ilmiah yang bermutu. Ukuran mutu dapat ditetapkan berdasarkan pengakuan dari pihak luar yang netral dan bertanggung jawab. Deng...