Imanuel Kant dalam Kritik der Reinen Vernunft, membedakan adanya tiga macam putusan (Kant, 1998). Pertama, Putusan analitis apriori; dimana predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya (misalnya, setiap benda menempati ruang). Kedua, Putusan sintesis aposteriori, misalnya pernyataan “meja itu bagus” di sini predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi, karena dinyatakan setelah (=post, bahasa latin) mempunyai pengalaman dengan aneka ragam meja yang pernah diketahui. Dan ketiga, Putusan sintesis apriori; disini dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan yang kendati bersifat sintetis, namun bersifat apriori juga. Misalnya, putusan yang berbunyi “segala kejadian mempunyai sebabnya” (Burhanuddin, 2013).
Untuk merumuskan tiga macam putusan tersebut, Kant membedakan dua macam putusan, yaitu putusan analitis apriori dan putusan sintesis aposteriori (Noor, 2010). Dalam putusan analitis yang bersifat apriori, setiap putusan yang terdiri dari pernyataan bahwa predikat B sudah termuat dalam subjek A, meskipun masih kabur. Dalam menentukan putusan ini kita tidak perlu mencari pengertian melalui pengalaman. Kita cukup menggunakan asas kontradiksi saja untuk mencapai putusan tersebut, karena subjek A sudah memuat seluruh predikat B. Kant menyebut putusan semacam ini sebagai “putusan yang memperjelas” pengetahuan kita. Namun, di lain pihak terlihat pula bahwa dengan putusan semacam ini kita tidak akan sanggup memperluas pengetahuan kita, sebab tidak ada sesuatu pengertian yang baru yang kita dapatkan, selain apa yang sudah terkandung dalam pengertian subiek A tersebut (Noor, 2010).
Sementara dalam putusan sintesis yang bersifat aposteriori, predikat B berada di luar pengertian subjek A, maka adanya pengertian-pengertian dalam hubungan antara A dan B hanya nampak melalui pengalaman-pengalaman kita mengenai benda A. Dengan demikian, berkat pengalaman-pengalaman kita mengenai benda A itulah pengetahuan kita menjadi makin bertambah luas (Noor, 2010).
Imanuel Kant berhasil menunjukkan perbedaan antara a priori dan a posteriori dan mempertahankan pentingnya pengetahuan a priori. Kant membedakan pengetahuan sintetis dan a priori dari analitis dan a posteriori. Kant memberi empat definisi yang berbeda. Karena hanya kebenaran a priori yang bersifat universal, seperti dalam ruang dan waktu, maka kebenaran sejati pastilah a priori. Pengertian semacam ini memberi argumen terhadap kebenaran a priori. Karena keterbatasan indra kita, maka tugas pengetahuan empiris adalah menjelaskan keterbatasan metafisika kita. Kedua hal ini sebenarnya saling terkait.
Kant sebenarnya sudah sangat maju dalam pemikirannya, bahwa menurutnya, pikiran kita tidak hanya menerima objek yang ada di sekitar kita, tetapi pikiran kita justru aktif memberi makna terhadapnya. Pengertian yang sesungguhnya dari suatu objek bisa terdistorsi oleh indra perasa kita sehingga kita tidak akan bisa sampai kepada pengertian yang sesungguhnya melalui pengamatan saja. Pengetahuan empiris adalah seperti pelengkap ke dalam dunia pengetahuan a priori yang sudah lebih dulu ada.
Melalui analisisnya, Kant berhasil menunjukkan bahwa prinsip dasar dalam matematika justru berasal dari pengetahuan a priori. Namun pengetahuan a priori ini tidak bisa murni kita terima seperti yang kita harapkan. Instrumen perasa dan nalar kita yang terbatas membuat kita membutuhkan keduanya penguji pengetahuan a priori dan analitis.
Daftar
Pustaka
Burhanuddin, A. (2013). Filsafat Immanuel Kant.
Afid Burhanuddin.
https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/09/21/filsafat-immanuel-kant-3/
Kant, I. (1998). Critique of pure reason (trans. Pau). Cambridge
University Press.
Noor, I. (2010). Teori pengetahuan Immanuel Kant dan implikasinya terhadap
batas ilmu. Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin, 9(1), 43–58.
https://doi.org/10.18592/jiu.v9i1.1409
LURUH EGO
2. Sebutkan komponen Persepsi: Realita
3. Sebutkan komponen Ilmu: Sintetik
4. Sebutkan komponen Ilmu: Apriori
5. Sebutkan komponen Berakhir: Batas
6. Sebutkan komponen Berakhir: Nihil
7. Sebutkan komponen Definisi: Asumsi
8. Sebutkan komponen Definisi: Aksioma
9. Sebutkan komponen Aksioma: Asumsi
10. Sebutkan komponen Aksioma: Konsep
11. Sebutkan komponen Asumsi: Pengalaman
12. Sebutkan komponen Asumsi: Common Sense
13. Sebutkan komponen Permulaan: Asumsi
14. Sebutkan komponen Permulaan: Sepakat
15. Sebutkan komponen Intuisi: Pengalaman
16. Sebutkan komponen Intuisi: Konsep
17. Sebutkan komponen Apostiori: Pengalaman
18. Sebutkan komponen Apostiori: Keputusan
19. Sebutkan komponen Sintetik: Sebab-Akibat
20. Sebutkan komponen Sintetik: Persepsi
21. Sebutkan komponen Pengalaman: Sintetik
22. Sebutkan komponen Pengalaman: Apostiori
23. Sebutkan komponen Konsisten: Hubungan
24. Sebutkan komponen Konsisten: Tetap
25. Sebutkan komponen Apriori: Logika
26. Sebutkan komponen Apriori: Keputusan
27. Sebutkan komponen Analitik: Konsisten
28. Sebutkan komponen Analitik: Valid
29. Sebutkan komponen Logika: Analitik
30. Sebutkan komponen Logika: Apriori
31. Sebutkan komponen Pengada: Ada
32. Sebutkan komponen Pengada: Mengada
33. Sebutkan komponen Pengada: Pengada
34. Sebutkan komponen Mengada: Ada
35. Sebutkan komponen Mengada: Mengada
36. Sebutkan komponen Mengada: Pengada
37. Sebutkan komponen yang Ada: Ada
38. Sebutkan komponen yang Ada: Mengada
Komentar