Langsung ke konten utama

Cara membaca bahasa Jerman

Cara membaca bahasa Jerman sama dengan bahasa Indonesia. Yang membedakan adalah sbb:

bentuk umlaut (ä,ü dan ö):

(ä dibaca e seperti pada kata bebek)
->contoh: (Anak perempuan) Mädchen dibaca Medchen
(ü dibaca u tapi mulut sedikit dimonyongkan)
->contoh: (Pulpen) Füller dibaca Fuuller
(ö dibaca eu seperti pada kata peuyeum)
->contoh: (Mendengar) Hören dibaca Heuren

bentuk lain:

->eu dibaca oi contoh: (mata uang) Euro dibaca Oiro
->ei dibaca ai contoh: (Polisi) Polizei dibaca Policsai
->z dibaca seperti c dan s contoh: (Kereta Api) Zug dibaca Csug
->j dibaca y contoh: (anak kecil cowok) Junge dibaca Yunge

Sangat mudah membaca lafal kata dalam bahasa Jerman, karena kebanyakan lafalnya mirip dengan bahasa Indonesia. Asal tertib memakai aturan2 di atas, kita sudah bisa sukses bicara dengan lafal yang benar. Jika dibandingkan dengan bahasa Inggris, lafal bahasa Jerman lebih bersahabat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

‘a priori’ dan ‘a posteriori’

  Imanuel Kant dalam Kritik der Reinen Vernunft , membedakan adanya tiga macam putusan (Kant, 1998) . Pertama, Putusan analitis apriori ; dimana predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya (m i salnya, setiap benda menempati ruang). Kedua, Putusan sintesis aposteriori , misalnya pernyataan “meja itu bagus” di sini predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi, karena dinyatakan setelah (=post, bahasa latin) mempunyai pengalaman dengan aneka ragam meja yang pernah diketahui. Dan ketiga, Putusan sintesis apriori ; disini dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan yang kendati bersifat sintetis, namun bersifat apriori juga. Misalnya, putusan yang berbunyi “segala kejadian mempunyai sebabnya” (Burhanuddin, 2013) . Untuk merumuskan tiga macam putusan tersebut, Kant membedakan dua macam putusan, yaitu putusan analitis apriori dan putusan sintesis aposteriori (Noor, 2010) . Dalam putusan analitis yang bersifat aprior...
 

Sulitnya belajar Filsafat

Kesulitan belajar menjadi salah satu kendala dalam terjadinya proses pembelajaran yang efektif (Mary, 2020) . Kesulitan belajar merupakan hambatan yang ditemui seseorang dalam belajar yang dapat muncul dari dalam diri siswa itu sendiri maupun dari luar diri siswa itu sendiri yang menyebabkan siswa tersebut tidak dapat mencapai tujuan pembelajaran (Minarti et al., 2015) . Kesulitan belajar ini juga terjadi pada pembelajaran filsafat (Mary, 2020; Miswari, 2016; Supriyatin, 2022) . Pembelajaran filsafat merupakan proses pembelajaran yang menuntut untuk berpikir tentang sesuatu yang abstrak. Sesuatu yang abstrak yang mempengaruhi pola pikir dan sikap perbuatan mereka sendiri. Menurut Descartes (1955) filsafat merupakan kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. Kita berpikir itulah yang menyebabkan kita ada (Descartes, 1955) . Karena itu, penanda penting manusia hakikatnya adalah kemampuan berpikir itu sendiri. Lalu bagaimana manusia yang tidak...