Langsung ke konten utama

Mimpi...................



Pernah punya mimpi ?.

Bukan, bukan mimpi bunga tidur, bukan mimpi soal nomer togel atau juga bukan mimpi basah. Mimpi harapan maksudku, keinginan yang besar. Kita biasa menyebutnya mimpi juga bukan ?

Sering orang mengucapkan “jangan mimpi deh loe, ntar kalo gak kesampaian bisa gila“. Tapi ketika dulu SMA, ketika saya pernah ikut dalam kursus-kursus dalam sebuah MLM, hal pertama yang diajarkan adalah bagaimana membangun mimpi.

Benar… membangun mimpi.

Kata mereka, kita tidak boleh takut punya mimpi. Pesawat terbang dimulai dengan sebuah mimpi bahwa manusia juga bisa terbang seperti burung. Perjalanan keluar angkasa juga dimulai dari sebuah mimpi bahwa manusia bisa berjalan-jalan keluar dari bumi. Bahkan microsoft yang anda gunakan sekarang (ya kebanyakan -red) dibangun dengan mimpi untuk menghadirkan setiap PC di setiap rumah di seluruh dunia. Banyak kemajuan dibangun dari sebuah mimpi.

Kolonel Sanders memulai usahanya ketika dia berumur 60 tahun, dan mulai meraih sukses yang menyeluruh dalam usaha KFC. Hal utama bukanlah usia -apakah terlalu tua atau terlalu muda, melainkan keinginan untuk terus bermimpi, dan keberanian untuk menyadarinya.

Kemampuan untuk bermimpi terus adalah salah satu kualitas yang baik dari umat manusia yang tidak dimiliki oleh spesies yang lain. Oleh karena itu, bermimpilah terus dan tetapkan batas akhir: buatlah menjadi impian yang besar, yang kecil, yang abadi, yang baru, yang berkaitan dengan hobby, yang merubah hidup, yang religius, yang bodoh, yang jenius, atau apapun … hanya teruslah bermimpi …. Kemudian, majulah dan kerjakan !

Aku pun saat ini juga masih terus bermimpi. Bermimpi tentang hidup, kuliah, masa depan, dan bagaimana mempunyai seseorang yang memberi hati ini nyaman.
Perjalanan ini masih sangat panjang. Tetapi aku percaya, ku akan meraih mimpi-mimpiku di dunia maupun saat di akherat kelak.

Dan Anda!!?........ Apa mimpi-mimpimu?
Semoga kalian dapat meraih apa yang kalian impikan.
Viel Glück!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

‘a priori’ dan ‘a posteriori’

  Imanuel Kant dalam Kritik der Reinen Vernunft , membedakan adanya tiga macam putusan (Kant, 1998) . Pertama, Putusan analitis apriori ; dimana predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya (m i salnya, setiap benda menempati ruang). Kedua, Putusan sintesis aposteriori , misalnya pernyataan “meja itu bagus” di sini predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi, karena dinyatakan setelah (=post, bahasa latin) mempunyai pengalaman dengan aneka ragam meja yang pernah diketahui. Dan ketiga, Putusan sintesis apriori ; disini dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan yang kendati bersifat sintetis, namun bersifat apriori juga. Misalnya, putusan yang berbunyi “segala kejadian mempunyai sebabnya” (Burhanuddin, 2013) . Untuk merumuskan tiga macam putusan tersebut, Kant membedakan dua macam putusan, yaitu putusan analitis apriori dan putusan sintesis aposteriori (Noor, 2010) . Dalam putusan analitis yang bersifat aprior...
 

Sulitnya belajar Filsafat

Kesulitan belajar menjadi salah satu kendala dalam terjadinya proses pembelajaran yang efektif (Mary, 2020) . Kesulitan belajar merupakan hambatan yang ditemui seseorang dalam belajar yang dapat muncul dari dalam diri siswa itu sendiri maupun dari luar diri siswa itu sendiri yang menyebabkan siswa tersebut tidak dapat mencapai tujuan pembelajaran (Minarti et al., 2015) . Kesulitan belajar ini juga terjadi pada pembelajaran filsafat (Mary, 2020; Miswari, 2016; Supriyatin, 2022) . Pembelajaran filsafat merupakan proses pembelajaran yang menuntut untuk berpikir tentang sesuatu yang abstrak. Sesuatu yang abstrak yang mempengaruhi pola pikir dan sikap perbuatan mereka sendiri. Menurut Descartes (1955) filsafat merupakan kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. Kita berpikir itulah yang menyebabkan kita ada (Descartes, 1955) . Karena itu, penanda penting manusia hakikatnya adalah kemampuan berpikir itu sendiri. Lalu bagaimana manusia yang tidak...